![]() |
| Pelabuhan Baranusa (by www. Paronamio.com |
#Baranusa..
![]() | |
|
Kurang lebih 4 jam perjalanan kami tempuh untuk mencapai Baranusa. Baranusa
daerah tepi pantai yang bisa dibilang cukup gersang. Mungkin karena kami datang
tepat saat kemarau. Kami sampai di tempat ini tengah hari. Di tepi lautan naka-
anak sedang mendayung ketinting adapula yang berenang. Wah rupanya
pasar baru saja usai,,,,hari ini hari pasaran. Pendamping dari Dinkes
membelikan kami kue rambut,, semacam gulali, manis. Teman kami harus
melanjutkan perjalanan ke Kayang. Setelah bernegosiasi dengan sopir ambulans
Baranusa, teman kami akhirnya sepakat di antar melalui darat dengan Ambulans.
Karena kondisi laut yang tidak memungkinkan untuk ke Kayang dengan boat.
Sudah tengah hari, kayang berbatasan dengan laut lepas dan ombak pasti akan
sangat tinggi di Kayang, menurut bapak sopir boat. Siang hari ini
di Baranusa tidak ada listrik. Listrik menyala dari jam 5 sore hingga jam 5
pagi. Sinyal Hp masih ada disini meskipun kadang hilang kadang ada (ababil
sinyalnya -_-" ). Setelah berkenalan dengan petugas di Puskesmas Baranusa
kami tidak bisa mengisi sebagian besar data kami. Ya mau bagaimana lagi
sebagian besar data ada di komputer dan listrik belum menyala. Sebisa mungkin
kami mengisi dari data-data yang ada print-out-nya. Oh ya, di
Puskesmas Baranusa saat kami datang (tepat bulan Agustus 2010) tidak punya dokter umum, hanya dokter gigi. Kebetulan dokter
gigi ini satu almamater dengan saya.
Kami menyalin data imunisasi. Hemmhh,,ada 3 bulan data imunisasi kosong.
Rasa penasaran saya mendorong untuk bertanya. Akhirnya saya tahu, data ini
kosong karena cuaca yang buruk selama 3 bulan, Dinkes tidak bisa mengirimkan
vaksin ke puskemas ini. Ada cool box disni namun tidak
bisa digunakan maksimal. Listrik menyala hanya 12 jam, menyala di malam hari
dan mati di pagi hari. Saat kondisi ini terjadi jelas
imunisasi tidak dapat dilakukan. Betapa tidak kondisi alam dan infrastruktur
yang kurang memadai tanpa disadari berkolaborasi merampas hak sehat
anak-anak Baranusa. Hemhh,,,apakah fakta ini bisa dijadikan hipotesis terkait
permasalahan perlambatan pertumbuhan penduduk di wilayah ini??? yaa mungkin
saja...
Karena tidak ada lagi data yang bisa saya salin, maka para petugas
puskesmas ini meminta kami beristirahat sejenak. Saat saya bangun, mereka
sedang sibuk menyiapkan masakan berbuka puasa untuk kami. Sesekali saya
membantu. Sesekali bercerita, bahwa tidak ada hiburan disini. Yang mereka bisa
lakukan mungkin berjalan menikmati pantai, melihat televisi di malam hari.
Namun, bapak dokter gigi punya cara lain mengisi waktu luang, yaitu memancing
ke Pulau Batang. Pulang Batang adalah salah satu Pulau tidak berpenghuni di
Alor. Ya waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Cepat sekali waktu
berlalu. Tidak terasa, tiba waktu berbuka. Adzan tetap terdengar kencang
disini, karena mayoritas masyarakat di baranusa ini adalah muslim. Hidangan
berbuka hari ini adalah ayam kecap, ikan pindang bakar dan es kelapa muda. Segar
dan nikmat. Oh ya, menurut masyarakat Alor dan NTT pada umumnya suguhan ayam
diberikan kepada orang yang dianggap tamu penting (saya tamu penting berarti
ya, heheheh :D ). Dan asal kalian tahu, harga es batu disini lebih mahal
daripada harga kelapa. Selepas berbuka puasa kami bercerita hal mistis. Menurut
salah satu petugas perna melihat hantu kepala api jatuh di pohon-pohon kelapa
dan masih banyak lagi. Selepas isya kami ke Puskemas kembali mengisi data. Kami
belum menyelesaikan pengisian data kami saat boat akan kembali
ke Kabir (agak sepihak juga sih keputusannya...dan miscommunication). Akhirnya
kami tetap melanjutkan pengisian data. Kami akan ke Kabir dengan perahu motor
bu Bidan besok pagi. Tepat pukul 12 malam kami menyelesaikan pengisian data tersebut,
dengan senang hati bapak kepala Puskesmas, bapak Silvester menunggui kami dan
melimpahi kami dengan makanan, Terima Kasih. Tengah malam kami mencari fotocopy
yang masih buka. Sungguh horor harus menggunakan Ambulans mengelilingi desa
untuk sekedar fotocopy. Dan saya duduk di bagian belakang. dan lagi-lagi
bercerita mistis, fyuhhh....sepanjang perjalanan mereka bercerita
pengalaman mengabdi di Puskesmas ini. Kak Yuni bercerita kalau dulu pernah
perahu motor yang ditumpangi hampir masuk pusaran air saat akan kunjungan ke
suatu desa di Baranusa. Kak Yuni bercerita semua penumpang berteriak, untung
saja perahu motor ini bisa lepas dari pusaran air. “di perahu motor sa
su menangis....itu perahu motor berputar putar”. Lain lagi cerita bu bidan
saat merujuk pasien partus (melahirkan) ke rumah sakit
Kalabahi karena si posisi bayi sungsang. Malam itu ibu bidan dan keluarga
pasien menggunakan perahu motor menuju kalabahi (katanya dengan perahu
motor Baranusa-Kalabahi bisa menghabiskan waktu 6 jam, oke baiklah lama sekali
ya). Ibu bidan bercerita di tengah merujuk pasien ini, ada ombak besar.
Jelas nyawa banyak orang di pertaruhkan saat itu, termasuk si Bayi yang belum
keluar ini. Mereka terombang ambing di tengah ombak besar, perahu motor tetap
melaju. Ada yang menangis ada yang berdoa. Tapi akhirnya sampai juga di RS
Kalabahi. Kata bu Bidan “ehhh saya kena marah dokter di Kalabahi ee...
katanya ini ibu posisi bayi normal kenapa di rujuk ke rumah sakit.
Saya bilang sa tadi di laut kami kena ombak, tadi sa periksa ini ibu
punya bayi sungsang ee”. Ombak buat posisi bayi jadi normal, kata bu bidan.
Begitu sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan yang lebih baik, bagi
masyarakat Baranusa. Mengantar 1 orang yang sakit. Ini berarti, saat perahu
motor melepas jangkar dan melaju di atas gelombang, semua yang ada
didalamnya siap menggadaikan nyawa di laut ini.......
Saat ini kami sudah kembali ke Puskesmas. Kami akan berangkat menuju Kabir
esok hari jam 4 pagi selepas sahur. Waktunya tidur. sebagai pengambil data saya
berdua dengan partner saya bernama mas Thoy (Thoyyib lengkapnya). Malam ini
sebentar untuk tidur di rumah dinas kompleks Puskesmas Baranusa. Mas Thoy tidur
di kamar depan dan saya bersam 2 petugas kesehatan yang sedari tadi menemani
dan membantu kami. Belum juga tidur, ada suara-suara aneh di kamar depan.
Hahhhhh...teman kami di kamar depan kesurupan. Menurut 2 kakak (sebutan
kepada wanita/laki-laki yang terlihat masih muda J ) ini kamar depan
ada penghuni seorang noni belanda. Hadduhhh bisa telat sahur ini pakai acara
kesurupan. Kami semua berkumpul dipojokan kamar sebelah berteriak histeris.
Tiba-tiba pintu kamar kami di ketuk dan suara di kamar depan hilang. Kami
bertambah histeris. Akhirnya kami berani juga membuka pintu, pelan-pelan sambil
mengintip takut juga jangan jangan bukan Mas Thoy di depan pintu tapi si noni
belanda hehhehe... Legalah ternyata bukan noni belanda di depan pintu. Tidak
jadilah tidur kami, malah mendengar cerita mistis Mas Thoy.
#Baranusa-Kabir
(Dokumentasi perjalanan hilang bersama Hp yang rusak, sayang sekali -_-" )
Baru saja rasanya tidur, sudah bangun lagi. Sudah pukul 4 pagi waktu bersiap menuju Kabir. sebelumnya kami sahur terlebih dahulu dan menunggu sholat subuh. Setelah semua siap, kami menuju pantai. Tidak lupa pamit pada Papa Sil (sebutan untuk pak kepala puskesmas). ada masalah dengan perahu motor yang besar, akhirnya kami menggunakan perahu motor kecil. Berhutang budi kami pada semua petugas dari Puskemas Baranusa (Kakak nona, Kakak yuni dan Kakak Sri) mau mengantar kami ke Kabir, mengorbankan minyak (sebutan bensin) saya tahu harganya sangat mahal disini, waktu dan perahu motor ini untuk gratis kami tumpangi. Aah iya 1 lagi suami ibu bidan terima kasih sudah bersedia mengantar kami dan terima kasih untuk sebotol pasir kuning-hitamnya. Masih ingat saya diajak ke pantai di Baranusa, semoga bisa singgah kembali. Dingin sekali udara pagi ini, meskipun saya tidur sebentar saya tidak mengatuk. Saya duduk di bagian depan perahu motor ini. Melihat lihat...baru sadar, jarak kami dengan air laut hanya 1 jengkal. Pagi menjelang, semburat jingga cantik sekali melukis awan di atas kepala kami. Ada awan cantik di atas kepala kami, dan ada laut indah di bawah mata kami, Subhanallah. Hari cepat sekali berubah terang. Saat kami berangkat semua pemandangan terlihat hitam dan sekarang sudah terlihat jelas. Dan memandang laut, ahhhh Tuhan...bening sekali airnya,,seperti di kolam. Saya lihat segerombolan ubur-ubur berenang. Saya turunkan tangan saya ke air (saya lupakan paranoid Hiu dan Paus,,hehehe) hemmhh.... dingin. Saya lihat terumbu karang besar-besar di bawah kami jelas itu nenek terumbu karang hahha,,, karena terumbu karang butuh waktu lama untuk menjadi selebar itu. Jauhnya perjalanan terasa begitu cepat. Tak terasa kami sampai di Kabir, sekitar pukul 6 pagi.
Ramai sekali tepi pantai kabir. orang lalu lalang membawa ikan. Oh mereka
baru pulang melaut dan hari ini sepertinya hari pasaran. Tidak hanya para orang
tua, ada banyak anak-anak yang menenteng ikan, hemmhh mereka menjual ikan
pemirsa. diantara ramainya transaksi jual beli ikan, saya melihat ada yang
menjual google. Yaa google dari kayu
sepertinya handmade dari penduduk lokal. Kami berjalan
menyusuri dermaga, petugas dari Baranusa juga masih menemani kami. Di tengah
jalan ada segerombolan anak yang menyapa kami “pagi kakak...” kami
balas ”pagi..”. Mereka punya dua versi sapaan. Saat mereka melihat
kami berjilbab maka mereka akan menyapa dengan “selamat pagi” jika
tidak mereka akan menyapa dengan mengucap “shaloom”. Teman-teman
bersantai ria, sebelumnya kami bertemu dengan petugas di Puskesmas Kabir. tepat
pukul 7 pagi petugas Baranusa izin pulang. Menurut mereka ombak akan tinggi
jika terlalu siang. Kami mengantar mereka sampai dermaga. Berjuta terima kasih
untuk kalian.
Pukul 11 siang kami bertolak dari kabir kembali ke Kalabahi. Seperti biasa saya duduk di dek dan mulai memotret sana sini. Ada pula yang duduk di atap boat dan ada yang tidur. mungkin kelelahan. Hari semakin siang dan tiba-tiba ombak besar mengguncang boat kami. Mereka sebut ini Tanjung Muna. Dari dek saya bisa melihat ombak yang datang memang besar dengan intensitas yang cepat. Jika kalian masih ingat pelajaran fisika tentang gelombang, kita tahu gelombang ada puncak dan lembah. Nah, ketika kami berhadapatn dengan gelombang ini, posisi kami sedang ada di lembah, kami sudah melihat puncak gelombang selanjutnya. Kami histeris sekali waktu itu. Rasanya seperti berjalan di jalan berbatu. Terpental-pental dan harus berpegangan kuat di pagar dek atau apalah yang penting berpegangan. Dek waktu itu ramai sekali dengan teriakan kami. Salah satu pendamping kami dari Dinkes bilang dengan sedikit berteriak dari dalam boat “Su jangan berteriak kalian nanti laut tambah marah. Ini su biasa”. Seketika kami berhenti dan menutup mulut. Dek hening seketika. Gelombang besar ini juga membuat salah satu teman kami mabuk laut. Gelombang tetap saja menghantam kami, kami bisa merasakannya. Gelombang besar sudah berakhir, tapi air laut cukup tinggi. Celana saya basah total, kebetulan saat itu saya duduk di pojok dek.
#La Petite Kepa”, Surga Setelah Gelombang
![]() |
| Berenang di Kepa |
![]() |
| Bermain Ketinting di Kepa |
Ada surga dibalik gelombang, yaaa kami berhenti di sebuah pulau indah
eemmhh bukan indah, ini pulau surga. Cantikkk sekali pantainya kawan, namanya
Kepa atau La Petite Kepa. La Petite diambil dari bahasa
perancis artinya kecil, jadi La Petite Kepa artinya Kepa kecil. Pulau ini telah
lama disewa oleh bule perancis. Bule prancis ini membangun resort bagi
diver yang ingin menyelam di pulau kepa ini. Pulau Kepa memiliki Spot Diving
yang uiindaahhh,,,(bilang gini soalnya cuma ini yang saya tahu cantik
ehhehheh). Resort disini berupa rumah tradisional
masyarakat Alor. Sayangnya, tidak ada dermaga disini dan sayangnya lagi kenapa
bule perancis yang mengelola aaaahh,,,masyarakat lokalnya kemana??. Oke baik
lupakan. Karena tidak ada dermaga, jadi kami harus berenang dulu untuk mencapai
pantai. Kalian yang mau meloncat dari atas kapal atau boat harus
pilih pilih tempat, tidak sembarang. Saat kami tiba, arus laut sedang
kuat, ada pusaran air tidak jauh dari tempat ini. Kami melewatinya tadi. Kami
meloncat ke laut sesuai arahan para kru boat dan pendamping dari
Dinkes yang notabene hafal di luar kepala kondisi laut disini. Tiba giliran
saya turun, dan saya meloncat, kemudian saya panik,,,dan hampir tenggelam
hahahha lagi lagi nekat. Manusia yang belum fasih berenang, sok berani meloncat
dari boat tanpa life vest, ban atau apalah itu yang bisa
mengapung. Oke baiklah, konyol jangan ditiru hehehe...tapi setidaknya saya tahu
air di laut ini UUUUASSINNN POOOLL. Insiden hampir tenggelam sudah selesai,
wwuuu kami bermain di kolam berair asin (saking beningnya). Kami mendayung
ketinting yang lagi nganggur di tepi pantai. Merasakan pasir pantai yang
lembut. Pasir disini berwarna hampir pink, cantik. Kami juga sempat
bermain-main disekitar resort milik Bule Prancis ini. Menurut
cerita, bule ini fasih bahasa daerah Alor loh,, waoooww two thumb buat
abang bule. Kemudian, kami memilih karang disini, ada karang merah
cantik sekali. Rupanya serpihan karang ini yang membuat pasirnya berwarna pink.
Waktu berputar cepat, sudah saatnya meninggalkan Kepa. Tentu, Kalabahi menunggu
kedatangan kami.

.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar