Kamis, 01 Mei 2014

Merekam Jejak di ALOR: 13 Hari Menjelajah Part 2

Pelabuhan Baranusa (by www. Paronamio.com

#Baranusa..

Anak-Anak Bermain Ketinting (Baranusa by http://places.seephotosof.com/) 
Kurang lebih 4 jam perjalanan kami tempuh untuk mencapai Baranusa. Baranusa daerah tepi pantai yang bisa dibilang cukup gersang. Mungkin karena kami datang tepat saat kemarau. Kami sampai di tempat ini tengah hari. Di tepi lautan naka- anak sedang  mendayung ketinting adapula yang berenang. Wah rupanya pasar baru saja usai,,,,hari ini hari pasaran. Pendamping dari Dinkes membelikan kami kue rambut,, semacam gulali, manis. Teman kami harus melanjutkan perjalanan ke Kayang. Setelah bernegosiasi dengan sopir ambulans Baranusa, teman kami akhirnya sepakat di antar melalui darat dengan Ambulans. Karena kondisi laut yang tidak memungkinkan untuk ke Kayang dengan boat. Sudah tengah hari, kayang berbatasan dengan laut lepas dan ombak pasti akan sangat tinggi di Kayang, menurut bapak sopir boat. Siang hari ini di Baranusa tidak ada listrik. Listrik menyala dari jam 5 sore hingga jam 5 pagi. Sinyal Hp masih ada disini meskipun kadang hilang kadang ada (ababil sinyalnya -_-" ). Setelah berkenalan dengan petugas di Puskesmas Baranusa kami tidak bisa mengisi sebagian besar data kami. Ya mau bagaimana lagi sebagian besar data ada di komputer dan listrik belum menyala. Sebisa mungkin kami mengisi dari data-data yang ada print-out-nya. Oh ya, di Puskesmas Baranusa saat kami datang (tepat bulan Agustus 2010) tidak punya dokter umum, hanya dokter gigi. Kebetulan dokter gigi ini satu almamater dengan saya.

Kami menyalin data imunisasi. Hemmhh,,ada 3 bulan data imunisasi kosong. Rasa penasaran saya mendorong untuk bertanya. Akhirnya saya tahu, data ini kosong karena cuaca yang buruk selama 3 bulan, Dinkes tidak bisa mengirimkan vaksin ke puskemas ini. Ada cool box  disni namun tidak bisa digunakan maksimal. Listrik menyala hanya 12 jam, menyala di malam hari dan mati di pagi hari.  Saat kondisi ini terjadi jelas imunisasi tidak dapat dilakukan. Betapa tidak kondisi alam dan infrastruktur yang kurang memadai tanpa disadari  berkolaborasi merampas hak sehat anak-anak Baranusa. Hemhh,,,apakah fakta ini bisa dijadikan hipotesis terkait permasalahan perlambatan pertumbuhan penduduk di wilayah ini??? yaa mungkin saja...

Karena tidak ada lagi data yang bisa saya salin, maka para petugas puskesmas ini meminta kami beristirahat sejenak. Saat saya bangun, mereka sedang sibuk menyiapkan masakan berbuka puasa untuk kami. Sesekali saya membantu. Sesekali bercerita, bahwa tidak ada hiburan disini. Yang mereka bisa lakukan mungkin berjalan menikmati pantai, melihat televisi di malam hari. Namun, bapak dokter gigi punya cara lain mengisi waktu luang, yaitu memancing ke Pulau Batang. Pulang Batang adalah salah satu Pulau tidak berpenghuni di Alor. Ya waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Cepat sekali waktu berlalu. Tidak terasa, tiba waktu berbuka. Adzan tetap terdengar kencang disini, karena mayoritas masyarakat di baranusa ini adalah muslim. Hidangan berbuka hari ini adalah ayam kecap, ikan pindang bakar dan es kelapa muda. Segar dan nikmat. Oh ya, menurut masyarakat Alor dan NTT pada umumnya suguhan ayam diberikan kepada orang yang dianggap tamu penting (saya tamu penting berarti ya, heheheh :D ). Dan asal kalian tahu, harga es batu disini lebih mahal daripada harga kelapa. Selepas berbuka puasa kami bercerita hal mistis. Menurut salah satu petugas perna melihat hantu kepala api jatuh di pohon-pohon kelapa dan masih banyak lagi. Selepas isya kami ke Puskemas kembali mengisi data. Kami belum menyelesaikan pengisian data kami saat boat akan kembali ke Kabir (agak sepihak juga sih keputusannya...dan miscommunication). Akhirnya kami tetap melanjutkan pengisian data. Kami akan ke Kabir dengan perahu motor bu Bidan besok pagi. Tepat pukul 12 malam kami menyelesaikan pengisian data tersebut, dengan senang hati bapak kepala Puskesmas, bapak Silvester menunggui kami dan melimpahi kami dengan makanan, Terima Kasih. Tengah malam kami mencari fotocopy yang masih buka. Sungguh horor harus menggunakan Ambulans mengelilingi desa untuk sekedar fotocopy. Dan saya duduk di bagian belakang. dan lagi-lagi bercerita mistis, fyuhhh....sepanjang perjalanan mereka bercerita pengalaman mengabdi di Puskesmas ini. Kak Yuni bercerita kalau dulu pernah perahu motor yang ditumpangi hampir masuk pusaran air saat akan kunjungan ke suatu desa di Baranusa. Kak Yuni bercerita semua penumpang berteriak, untung saja perahu motor ini bisa lepas dari pusaran air. “di perahu motor sa su menangis....itu perahu motor berputar putar”. Lain lagi cerita bu bidan saat merujuk pasien partus (melahirkan) ke rumah sakit Kalabahi karena si posisi bayi sungsang. Malam itu ibu bidan dan keluarga pasien menggunakan perahu motor menuju kalabahi (katanya dengan perahu motor Baranusa-Kalabahi bisa menghabiskan waktu 6 jam, oke baiklah lama sekali ya). Ibu bidan bercerita di tengah merujuk pasien ini, ada ombak besar. Jelas nyawa banyak orang di pertaruhkan saat itu, termasuk si Bayi yang belum keluar ini. Mereka terombang ambing di tengah ombak besar, perahu motor tetap melaju. Ada yang menangis ada yang berdoa. Tapi akhirnya sampai juga di RS Kalabahi. Kata bu Bidan “ehhh saya kena marah dokter di Kalabahi ee... katanya ini ibu posisi bayi normal kenapa di rujuk ke rumah sakit. Saya bilang sa tadi di laut kami kena ombak, tadi sa periksa ini ibu punya bayi sungsang ee”. Ombak buat posisi bayi jadi normal, kata bu bidan.

Begitu sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan yang lebih baik, bagi masyarakat Baranusa. Mengantar 1 orang yang sakit. Ini berarti, saat perahu motor melepas jangkar dan melaju di  atas gelombang, semua yang ada didalamnya siap menggadaikan nyawa di laut ini.......

Saat ini kami sudah kembali ke Puskesmas. Kami akan berangkat menuju Kabir esok hari jam 4 pagi selepas sahur. Waktunya tidur. sebagai pengambil data saya berdua dengan partner saya bernama mas Thoy (Thoyyib lengkapnya). Malam ini sebentar untuk tidur di rumah dinas kompleks Puskesmas Baranusa. Mas Thoy tidur di kamar depan dan saya bersam 2 petugas kesehatan yang sedari tadi menemani dan membantu kami. Belum juga tidur, ada suara-suara aneh di kamar depan. Hahhhhh...teman kami di kamar depan kesurupan. Menurut 2 kakak (sebutan kepada wanita/laki-laki yang terlihat masih muda J ) ini kamar depan ada penghuni seorang noni belanda. Hadduhhh bisa telat sahur ini pakai acara kesurupan. Kami semua berkumpul dipojokan kamar sebelah berteriak histeris. Tiba-tiba pintu kamar kami di ketuk dan suara di kamar depan hilang. Kami bertambah histeris. Akhirnya kami berani juga membuka pintu, pelan-pelan sambil mengintip takut juga jangan jangan bukan Mas Thoy di depan pintu tapi si noni belanda hehhehe... Legalah ternyata bukan noni belanda di depan pintu. Tidak jadilah tidur kami, malah mendengar cerita mistis Mas Thoy.

#Baranusa-Kabir

(Dokumentasi perjalanan hilang bersama Hp yang rusak, sayang sekali -_-"  )

Baru saja rasanya tidur, sudah bangun lagi. Sudah pukul 4 pagi waktu bersiap menuju Kabir. sebelumnya kami sahur terlebih dahulu dan menunggu sholat subuh. Setelah semua siap, kami menuju pantai. Tidak lupa pamit pada Papa Sil (sebutan untuk pak kepala puskesmas). ada masalah dengan perahu motor yang besar, akhirnya kami menggunakan perahu motor kecil. Berhutang budi kami pada semua petugas dari Puskemas Baranusa (Kakak nona, Kakak yuni dan Kakak Sri) mau mengantar kami ke Kabir, mengorbankan minyak (sebutan bensin) saya tahu harganya sangat mahal disiniwaktu dan perahu motor ini untuk gratis kami tumpangi. Aah iya 1 lagi suami ibu bidan terima kasih sudah bersedia mengantar kami dan terima kasih untuk sebotol pasir kuning-hitamnya. Masih ingat saya diajak ke pantai di Baranusa, semoga bisa singgah kembali. Dingin sekali udara pagi ini, meskipun saya tidur sebentar saya tidak mengatuk. Saya duduk di bagian depan perahu motor ini. Melihat lihat...baru sadar, jarak kami dengan air laut hanya 1 jengkal. Pagi menjelang, semburat jingga cantik sekali melukis awan di atas kepala kami. Ada awan cantik di atas kepala kami, dan ada laut indah di bawah mata kami, Subhanallah. Hari cepat sekali berubah terang. Saat kami berangkat semua pemandangan terlihat hitam dan sekarang sudah terlihat jelas. Dan memandang laut, ahhhh Tuhan...bening sekali airnya,,seperti di kolam. Saya lihat segerombolan ubur-ubur berenang. Saya turunkan tangan saya ke air (saya lupakan paranoid Hiu dan Paus,,hehehe) hemmhh.... dingin. Saya lihat terumbu karang besar-besar di bawah kami jelas itu nenek terumbu karang hahha,,, karena terumbu karang butuh waktu lama untuk menjadi selebar itu. Jauhnya perjalanan terasa begitu cepat. Tak terasa kami sampai di Kabir, sekitar pukul 6 pagi.


Ramai sekali tepi pantai kabir. orang lalu lalang membawa ikan. Oh mereka baru pulang melaut dan hari ini sepertinya hari pasaran. Tidak hanya para orang tua, ada banyak anak-anak yang menenteng ikan, hemmhh mereka menjual ikan pemirsa. diantara ramainya transaksi jual beli ikan, saya melihat ada yang menjual google. Yaa google dari kayu sepertinya handmade dari penduduk lokal. Kami berjalan menyusuri dermaga, petugas dari Baranusa juga masih menemani kami. Di tengah jalan ada segerombolan anak yang menyapa kami “pagi kakak...” kami balas ”pagi..”. Mereka punya dua versi sapaan. Saat mereka melihat kami berjilbab maka mereka akan menyapa dengan “selamat pagi” jika tidak mereka akan menyapa dengan mengucap “shaloom”. Teman-teman bersantai ria, sebelumnya kami bertemu dengan petugas di Puskesmas Kabir. tepat pukul 7 pagi petugas Baranusa izin pulang. Menurut mereka ombak akan tinggi jika terlalu siang. Kami mengantar mereka sampai dermaga. Berjuta terima kasih untuk kalian.

Pukul 11 siang kami bertolak dari kabir kembali ke Kalabahi. Seperti biasa saya duduk di dek dan mulai memotret sana sini. Ada pula yang duduk di atap boat dan ada yang tidur. mungkin kelelahan. Hari semakin siang dan tiba-tiba ombak besar mengguncang boat kami. Mereka sebut ini Tanjung Muna. Dari dek saya bisa melihat ombak yang datang memang besar dengan intensitas yang cepat. Jika kalian masih ingat pelajaran fisika tentang gelombang, kita tahu gelombang ada puncak dan lembah. Nah, ketika kami berhadapatn dengan gelombang ini, posisi kami sedang ada di lembah, kami sudah melihat puncak gelombang selanjutnya. Kami histeris sekali waktu itu. Rasanya seperti berjalan di jalan berbatu. Terpental-pental dan harus berpegangan kuat di pagar dek atau apalah yang penting berpegangan. Dek waktu itu ramai sekali dengan teriakan kami. Salah satu pendamping kami dari Dinkes bilang dengan sedikit berteriak dari dalam boat “Su jangan berteriak kalian nanti laut tambah marah. Ini su biasa”. Seketika kami berhenti dan menutup mulut. Dek hening seketika. Gelombang besar ini juga membuat salah satu teman kami mabuk laut. Gelombang tetap saja menghantam kami, kami bisa merasakannya. Gelombang besar sudah berakhir, tapi air laut cukup tinggi. Celana saya basah total, kebetulan saat itu saya duduk di pojok dek.

#La Petite Kepa”, Surga Setelah Gelombang

Berenang di Kepa

Bermain Ketinting di Kepa
Ada surga dibalik gelombang, yaaa kami berhenti di sebuah pulau indah eemmhh bukan indah, ini pulau surga. Cantikkk sekali pantainya kawan, namanya Kepa atau La Petite Kepa.  La Petite diambil dari bahasa perancis artinya kecil, jadi La Petite Kepa artinya Kepa kecil. Pulau ini telah lama disewa oleh bule perancis. Bule prancis ini membangun resort bagi diver yang ingin menyelam di pulau kepa ini. Pulau Kepa memiliki Spot Diving yang uiindaahhh,,,(bilang gini soalnya cuma ini yang saya tahu cantik ehhehheh). Resort disini berupa rumah tradisional masyarakat Alor. Sayangnya, tidak ada dermaga disini dan sayangnya lagi kenapa bule perancis yang mengelola aaaahh,,,masyarakat lokalnya kemana??. Oke baik lupakan. Karena tidak ada dermaga, jadi kami harus berenang dulu untuk mencapai  pantai. Kalian yang mau meloncat dari atas kapal atau boat harus pilih pilih tempat, tidak sembarang. Saat kami tiba, arus laut sedang kuat, ada pusaran air tidak jauh dari tempat ini. Kami melewatinya tadi. Kami meloncat ke laut sesuai arahan para kru boat dan pendamping dari Dinkes yang notabene hafal di luar kepala kondisi laut disini. Tiba giliran saya turun, dan saya meloncat, kemudian saya panik,,,dan hampir tenggelam hahahha lagi lagi nekat. Manusia yang belum fasih berenang, sok berani meloncat dari boat tanpa life vest, ban atau apalah itu yang bisa mengapung. Oke baiklah, konyol jangan ditiru hehehe...tapi setidaknya saya tahu air di laut ini UUUUASSINNN POOOLL. Insiden hampir tenggelam sudah selesai, wwuuu kami bermain di kolam berair asin (saking beningnya). Kami mendayung ketinting yang lagi nganggur di tepi pantai. Merasakan pasir pantai yang lembut. Pasir disini berwarna hampir pink, cantik. Kami juga sempat bermain-main disekitar resort milik Bule Prancis ini. Menurut cerita, bule ini fasih bahasa daerah Alor loh,, waoooww two thumb buat abang bule. Kemudian, kami memilih karang disini, ada karang merah cantik sekali. Rupanya serpihan karang ini yang membuat pasirnya berwarna pink. Waktu berputar cepat, sudah saatnya meninggalkan Kepa. Tentu, Kalabahi menunggu kedatangan kami.
View Pulau Kepa (www.transtike.com)
Perjalanan ke Kalabahi dari Pulau ini tidak terlalu jauh. Tidak terasa kami sudah tiba dan tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di hotel. Setelah mandi kami beristirahat. Esok akan menjelajah Bakalang dan Pulau Pura





Tidak ada komentar:

Posting Komentar