Senin, 19 Mei 2014

Merekam Jejak di ALOR: 13 Hari Menjelajah Part 3

#Perjalanan DaratTibalah saatnya untuk berkunjung ke Puskesmas di balik pegunungan Alor Besar. Setelah sebelumnya, mengunjungi Bakalang dan Pulau Pura. Ada 2 masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat di Pulau Pura adalah keterbatasan tenaga kesehatan dan minimnya air bersih. Buraga? Puskesmas ini memiliki pantai indah hanya sekitar 100 meter dari halaman puskesmas. air lautnya bergradasi,,,indaaaahh sekali. Meskipun kita di Puskesmas tetap menemukan surga. Namun fasilitas yang tersedia di puskesmas ini cukup jauh untuk dikatakan “surga” bagi masyarakat yang butuh kesehatan. 

Puskesmas Bakalang

View Depan Puskemas Bakalang

Oke kembali lagi..
Hari ini kami akan menempuh perjalanan panjang mulai Puskesmas Buraga hingga Puskemas Mademang. Kabarnya dari Puskesmas Mademang kita bisa melihat Timor Leste, waoow. Perjalanan kali ini akan ditempuh menggunakan 2 moda transportasi, darat dan laut. Ingin melihat alam Alor lebih dekat dan mencoba ganasnya alam Alor, saya memilih melakukan perjalanan darat. Saeperti biasa, saya wanita penggila kegiatan ekstrim, puasa bukan halangan bagi saya ber-ekstrim ria. Ya inilah saya, meskipun wanita untuk perjalanan kali ini saya memilih Puskesmas terjauh di atas pegunungan Alor, Puskesmas Padang Alang. Saat sesi diskusi sebelumnya, saya sempat dilarang untuk naik ke padang alang. Pertama, karena saya wanita; keduam karena saya berpuasa. Tapi keras kepala saya tidak merubah keputusan dan hari ini, saya akan menginjakkan kaki di tempat paling terpencil di Alor bernama Padang Alang, Horeeee.....mungkin kalian berpikir saya gila hehhe.

Kami sudah duduk rapi di dalam ambulans milik Dinkes Alor sejak jam setengah 7 pagi. Tidak perlu menunggu lama, ambulans mulai bergerak meninggalkan hotel membawa kami  ber-7 menyusuri jalanan Alor yang masih ter-aspal rapi. Parjalanan berikutnya mulai kami merasakan jalanan berkelok dan berbatu. Tampak aspal sudah terkelupas. Kami sesekali bergoyang-goyang di dalam mobil saat melewati jalanan berbatu. Tidak ada kegiatan mengutak atik Hp, karena sinyal sudah hilang entah kemana. Satu-satunya kegiatan yang dapat dilakukan adalah memanjakan mata, melihat pemandangan yang terhampar dan menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang begitu segar, yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di Surabaya. Ada hamparan pegunungan, dan hamparan sawah hijau. Kabut pun masih ada yang tertinggal, melayang layang dan sedikit-sedikit menghilang karena terpaan sinar mentari. Inilah Desa Mainang. Tidak ada listrik sama sekali disini. Terletak dekat dengan kota, namun tidak kebagian pasokan listrik. Tidak lama kami di desa ini hanya mengantar teman kami yang bertugas di Puskesmas desa ini dan kami terus melanjutkan perjalanan.

Aspal semakin tidak terlihat, yang sering terlihat adalah serpihan batu-batu. Semakin sering kami terkocok-kocok di dalam mobi ambulans. Kemudian tidak ada aspal lagi yang kami lihat, hanya kombinasi tanah dan batu yang menjadi landasan pijak kami. Kanan-kiri kami adalah semak belukar. Ini adalah tanda kami akan memulai perjalanan di atas pegunungan. Memulai perjalanan terjal. Mobil yang bisa melewati daerah ini adalah mobil double garda, selain itu tidak disarankan melalui jalanan ini. Ambulans disini juga sudah double garda karena alam yang begitu garang. Perlu mendaki dan membelah hutan di antara terbing yang terjal. Setelah melintasi bagian semak belukar, kami bertemu dengan segerombolan anak-anak. Mereka menggendong seekor babi dan yang lain membawa panah. Mungkin disini memanah dan berburu adalah permainan yang menyenangkan bagi anak-anak disini disaat di kota asal kami bermain game di gadget diaggap permainan yang keren. Diantara anak-anak yang berlari lari memegang panah, menggendong babi ada anak yang sedang permain ban bekas. Dia menggelindingkannya di atas tanah berbatu dan semak belukar. Dan tentu saja ada babi disana, umpan bagi saya untuk berteriak “Babi...babiii ada babiiii”. Dasar anak kota masuk desa. Oh ya,, angkutan umum hanya 1 kali per bulan saja singgah ke desa ini dan desa lainnya di atas pegunungan ini.


Kesimpulan dini saya, mengapa disini sering terjadi outbreak campak, gizi buruk dan sejuta permasalahan lainnya adalah 1 kata AKSES. AKSES berdampak pada keterbatasan seluruh sektor, baik kesehatan maupun non kesehatan. Dan mungkin juga ada kaitannya dengan perlambatan pertumbuhan penduduk.

# Bunga Kemiri atau Mawar Hutan??
            Landasan pijak kami berganti ganti tapi kali ini adalah tanah. Tanah merah yang cukup licin jika sedang hujan. Di beberapa sisi masih ada kubangan air. Pepohonan semakin rapat. Oke kami sudah masuk membelah hutan Om Heri yang mengantar kami hari itu bercerita kalau saat Dinkes melakukan perjalanan ke Padang Alang sedang turun hujan. Arus air sangat deras turun dari tanjakan dan mereka harus naik melawan arus. Pernah juga karena musim hujan ambulans tidak bisa dipaksa berjalan lagi. Terjebak diantara tanah merah dan lumpur. Mereka pulang berjalan kaki hingga Kalabahi. Oh God,,,saya mendengar cerita saja sudah mengelus dada,, pertaruhan besar tenaga kesehatan disini. Ambulans ini membawa kami semakin dalam menyusuri hutan pegunungan ini. Naik-turun, terguncang-guncang terasa sangat menyenangkan di tengah teriknya maentari Ramadhan di Bumi Alor. heemhhh bau harum menusuk hidung. “bau apa ini om??” saya bertanya pada salah satu pendamping dari Dinkes yang duduk disamping saya (lupa namanya siapa, maap :D ). “kemiri mungkin”  katanya. Saya hanya manggut manggut. Tapi kemudian, jawaban diralat “mungkin mawar hutan” ahhh..mawar hutan,  seperti apa bentuknya mawar hutan, sudahlah lupakan. Tidak terasa kami sudah melihat hamparan laut biru di depan kami, seperti elang melihat dari ketinggian. Jalanan berbatu besar dan samping kami adalah jurang, itu mengerikan. Saat kami sedang di ketinggian, kami melihat speedboat teman-teman melintas. Nampaknya konsetrasi untuk menyapa speedboat kami dari ketinggian harus diurungkan, karena di depan ada jalan sempit menikung yang berdampingan dengan jurang, geser sedikit...ya terjun bebas. Ujian jalan terjal kami lulus dan kembali menyusuri pantai bertemu teman-teman.
            Saat kami sampai teman-teman sedang bergantian menyebrang ke bibir pantai, naik ketinting. Disini tidak ada dermaga di samping boat kami ada kapal motor. kapal motor juga tidak setiap hari mangkal disini, hanya pada hari hari tertentu. Tapi lebih sering dibanding angkutan darat. Ah... ternyata di dalam kapal motor ada petugas kesehatan Puskesmas Padang Alang. Rupanya mereka bersiap untuk pergi ke kota. Melihat speedboat kami, mereka langsung turun dari kapal motor.  “tidak ada konfirmasi” ucap mereka pertama kali. Delay informasi sudah biasa sepertinya terjadi, sinyal Hp disini jangan ditanya lagi “TIDAK ADA”. Padang Alang masih harus mendaki lagi, kami menawarkan para nakes ikut serta dalam ambulans kami mereka memilih untuk berjalan selama 1 jam membelah hutan oke,,baiklah.
            Mendaki ke Padang Alang lebih ekstrim daripada perjalanan sebelumnya. Jalan tanah yang lebih berbatu, dann.....kami melewati tanjakan tajam, aku berpikir mungkin mobil ini akan terbalik dari saking terjalnya. Susah payanh menaiki tanjakan yang bisa dikatakan itu hampir vertikal sempurna fyuhhhh...akhirnya menemukan jalan setapak. Kami berhenti disini. Ada yang “nyangkut” saat mendaki di tanjakan terjal tadi. Lagi lagi mengelus dada..susah sekali menjadi tenaga kesehatan disini. Mereka bekerja sangat ekstra, tapi mendapat upah yang sama dengan kebanyakan tenaga kesehatan di Jawa. Ahh...mungkin ini bisa dikatakan tidak adil. Disaat tenaga kesehatan di jawa menyetir mobil mentereng, disini pergi ke Puskesmas saja jalan kaki mendaki, melewati hutan. Terbatas sekali untuk sekedar mencicip hingar bingar Kalabahi, tidak lebih.

Jalan Setapak Menuju Puskemas Padang Alang


#Padang Alang
“Oto..Oto...Oto...” anak-anak berhamburan dari sekolahnya berteriak sambil mengejar ambulans kami. Om Heri sesekali berteriak agar berhenti mengejar takut kena batu yang mungkin terpelanting terinjak ban mobil kami. Inilah padang alang, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam. Jika perjalanan dari Surabaya, ini sudah sampai ke rumah saya di Madura.  Anak-anak kecil ini tetap mengerubuti ambulans kami, seperti semut menemukan gula. Mobil adalah benda luar biasa buat mereka, karena jarang sekali ada mobil singgah disini. Anak-anak ini sepertinya sudah pulang sekolah, tapi kalau kita lihat dengan seksama sangat warna warni. Seragam ada yang pakai seragam, ada yang pakai kaos olahraga. Alas kaki pun begitu, ada yang pakai sepatu, pakai sandal ada pula yang bangga pergi sekolah bertelanjang kaki. Mereka “anak-anak pelangi”, saking warna warninya. Tapi yang mengerikan sekelas anak SD mereka bawa parang, mungkin kalau di Jakarta sudah diciduk Polisi disangka mau tawuran. Ehh ternyata, parang memang selalu mereka bawa karena rumah mereka jauh, harus menembus hutan. Parang untuk senjata mereka kalau bertemu binatang buas di hutan (aaaahhhhh mau sekolah aja pake ketemu biantang buas).


Sekolah Padang Alang mungkin mewakili kisah pilu sekolah-sekolah lain di pelosok Indonesia. Anak sekecil ini dengan semangatnya bersekolah, namun tidak terfasilitasi dengan baik oleh pemimpin negeri ini. Janji kemerdekaan jelas tanpa cela belum terlunasi di sini, di Padang Alang. Fasilitas berbeda, namun mengerjakan soal UNAS yang sama sulitnya dengan anak-anak di Jawa. Sungguh sangat pilu.. ahhh lagi lagi saya harus teriak ini benar benar jauh dari adil. 

Para tenaga kesehatan belum sampai, kami menunggunya di bale-bale berbentuk rumah tradisional NTT di samping Puskesmas. sekali lagi di desa ini NO SIGNAL, NO LISTRIK dan airnya LIMITED EDITION, baiklah komplit. Ceritanya, kalau mau dapat sinyal Hp, harus naik dulu ke pegunungan yang lebih tinggi. Perjalanannya cukup dengan 2 jam jalan kaki hhheeeeeeeeerrgggghh....mungkin kalo kantor pos ada disini laris manis. Saya yang bertugas di Puskesmas ini melakukan tanya jawab. Si Joni selalu membuat tidak tenang bertanya jawab karena selalu lewat di bawah kursi. Si Joni adalah anjing penjaga Puskesmas, si anjing dalmatians (dikitttt). Tugas joni yang utama adalah menjaga gudang makanan yang isinya biskuit bantuan dari kementrian kesehatan. aahhh agak bingung juga ngapain joni susah susah jagain itu gudang. Oh ternyata... biskuit bantuan itu sering kali dicuri masyarakat sekitar. Harus berapa kali saya mengelus dada, ada apa ini. mungkin bagi kalian biskuit bantuan kalah prestige sama sepotong ayam kentucky, tapi di padang alang biskuit ini jadi sangat prestige sampai sampai di curi. Belum lagi saat mendengar cerita, ketika mereka harus melalukan kunjungan Posyandu, mereka harus JALAN KAKI sambil MENGGOTONG OBAT sampai desa terjauh berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Mademang. Saya tidak tau harus mengatakan apa. Ambulans tidak terlihat disana. Mungkin antara akses terbatas, fasilitas kesehatan dan pendudukung yang kurang memadai berkorelasi positif dengan pertumbuhan penduduk yang cenderung defisit.

                                                               Istirahat Dulu Tunggu Nakes yang Lagi OTW

#Penumpang-Penumpang Baru

Menjelang sore kami bertolak dari Padang Alang. Rencananya kami akan singgah dahulu ke salah satu puskesmas baru, Puskesmas Kalunan (semoga tidak salah). Ah tapi kami menjemput bapak Camat dahulu. Sebelum kami, sampai di bibir pantai tadi siang kami bertemu pak camat. Pak camat memberhentikan ambulans kami. Sedikit berbincang rupanya pak camat ingin menumpang mobil kami ke Kalabahi. Seperti bapak pejabat yang lain, bapak camat disini sangat sederhana. Mobil kembali melaju menuju Puskemas Kalunan. Jalanannya sungguh parah. Berkali-kali kami terkocok-kocok. Saling berpegangan, termasuk berpegangan pada celana pak camat. Mungkin kalau itu terjadi di Jawa, kami sudah dianggap tidak sopan. Melewati tanjakan dan turun lagi ke menyisir bibir pantai berbatu. di tengah perjalanan kami juga bertemu dengan mobil hardtop membawa bantuan untuk puskesmas. Disini bantuan terbanyak bersal dari Australia. Hari sudah sore saat kami sampai di Puskesmas Kalunan. Tidak terlalu lama kami disini, karena masih baru tidak terlalu banyak data yang bisa kami salin. Air bersih tidak ada disini. MCK dilakukan di kali berair payau di belakang Puskesmas, tidak terkecuali Pak kepala Puskemas. Di perjalanan pulang kami, kami melewati kali ini, berdampingan dengan laut. Ada yang mencuci ada yang gosok gigi. Seharusnya mereka dapat air yang bersih. Menurut pak kepala puskesmas, kejadian penyakit akibat nyamuk cukup tinggi disini. 

Pantai Depan Puskemas Kawulan (Baju Kuning Pak Camat)








                                                                                                              (Bukan) Laskar Pelangi 


 Gosok Gigi di Kali Air Payau (Sumber Air Bersih)
                                                                             Cuci Baju (Sumber Air Bersih)

Meninggalkan Padang Alang dan Kawulan, menyisakan kenangan dan tak hentinya bersyukur. Hari semakin sore, roda mobil kami berputar menyisir pantai dan kali ini kembali mendaki tebing, menyibak belukar. Di tengah tanjakan mobil kami berhenti. Oke ini di atas pengunungan, menjelang sore dan ini adalah hutan, oke fix. Ada mata air disana kami bisa mencuci muka, sedikit menyegarkan badan ini setelah perjalanan panjang, hemmhh....dingin. beberapa menit kami menunggu, si mobil sehat lagi tapi double gardan tidak berfungsi. Tapi tidak apa yang penting bisa sampai Kalabahi. kami hampir benar-benar lupa kalau kami sedang berpuasa hari ini. Salah satu pendamping dari Dinkes yang mengigatkan, ini sudah masuk Maghrib dan bertanya akan berbuka dimana. Kami jawab di mobil saja agar tidak kemalaman. Kembali kami masuk hutan, wangi bunga ambigu (bunga kemiri atau mawar hutan) semakin tajam. Menyegarkan hidung kami, benar-benar aromaterapi alami hehhe. Matahari beranjak tidur, berubah petang. Dan kami masih meniti setiap batu dan jalanan terjal di dalam hutan ini. Sesekali Om Heri memberi aba-aba “sedikit kasar ya” dan refleks kami berpegangan dan kami terkocok-kocok di dalamnya. Sangat terasa ban ini berputar-putar di tanah merah yang licin dan heeemm hampir saja tergelincir ke jurang di samping kami.

Sekali lagi kami diingatkan berbuka. Bagi saya ini adalah buka puasa ternikmat. Jika saat ini saya berbuka di rumah mungkin makanan warna-warni sudah saya lahap, mulai dari es, kurma, nasi, sayur dan berbagai pilihan lauk. Tapi disini, hanya sebotol air mineral ukuran 1 liter, wafer dan beberapa kaleng softdrink. Kami minum bergantian sambil dikocok-kocok kerna mobil kami berpijak pada bebatuan yang terjal. Kami harus tahu kapan kami harus minum agar tidak tersedak. Disinilah saya belajar dan mencicip rasa nikmat berbagi. Samping kanan dan kiri sudah gelap, pohon-pohon sudah berganti menjadi hitam. Terang rembulan tidak cukup menerangi perjalanan kami. Lampu mobil kami membelah gelapnya hutan ini dan...ada lelaki paruh baya, menggandeng anak kecil melambaikan tangan tanda memberhentikan mobil kami. Sangat tidak peduli jika kami tidak berhenti, ini hutan, gelap dan tidak ada rumah penduduk. Bapak dan anak ini menumpang mobil kami dan kami harus berbagi. Seperti biasa mereka mebawa parang kemana-mana. Anak yang duduk di samping bapak ini mungkin sekitar 5 tahun, kecil dan kurus. Saat kami tanya darimana malam-malam begini. Bapak ini menjawab dari PUSTU DI APUI. Haahhh...kami yang orang kota seketika terbelalak dan jika kami punya banyak makanan dan minuman rasanya ingin diberikan ke bapak dan adek ini. Rumah bapak ini dekat Mainang dan bapak ini sudah berjalan dari Pustu di Apui sejak jam 3 sore dan ini sudah jam 6 sore. 3 jam sudah bapak ini berjalan. Mendadak saya tidak merasa lapar, meskipun berbuka dengan sepotong wafer dan air seadanya. Menurut bapak ini perjalanan dengan jalan kaki dari rumahnya ke pustu di APUI bisa 5 jam (PP 10 jam, pemirsaaaa) karena tahu jalan pintas. Parang berfungsi untuk menebas belukar dan binatang buas tentunya. Kata bapak ini kalau bukan orang asli sini, bisa jadi 7 jam perjalanan (PP 14 jam pemirrsssaaaa #pingsan). Disinilah tak henti hentinya bersyukur. Ini Ramadhan ternikmat. Sepanjang perjalanan kami juga sibuk membicarakan swanggi. Alor kota yang mistis, katanya ada orang yang bisa terbang kemana-mana bahkan mereka punya perkumpulan internasional waaaaaaww :D . Mereka mulai bercerita swanggi tidak makan pisang emas sampai pernah menemukan swanggi. Oh ya rencananya kami akan singgah di Apui malam ini, namun diurungkan karena kami tidak bawa baju ganti. Katanya jika menginap di Apui, tengah malam akan mendengar suara kaki berjalan tapi tidak ada wujudnya. Itu seram sekali gan, dan Apui sangat dingin. Tidak terasa kami sudah mendekati Mainang. Bapak dan adik kecil ini turun, kami memberikan semua makanan yang kami miliki termasuk softdrink yang masih tersisa. Kami bisa membelinya lagi di Kalabahi, bahkan di Surabaya bisa kami membelinya dimana saja.

Melintasi Puskesmas mainang sudah sepi, semuanya gelap. memang tidak ada listrik disini. Sepertinya teman kami sudah kembali ke kota. Perjalanan kami lanjutkan. Setelah mengantar pak camat, mobil kami melaju ke hotel. Perjalanan hari ini berakhir dengan penuh kenangan yang patut disyukuri. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar