View Depan Puskemas Bakalang
Oke kembali
lagi..
Hari
ini kami akan menempuh perjalanan panjang mulai Puskesmas Buraga hingga
Puskemas Mademang. Kabarnya dari Puskesmas Mademang kita bisa melihat Timor
Leste, waoow. Perjalanan kali ini akan ditempuh menggunakan 2 moda
transportasi, darat dan laut. Ingin melihat alam Alor lebih dekat dan mencoba
ganasnya alam Alor, saya memilih melakukan perjalanan darat. Saeperti biasa,
saya wanita penggila kegiatan ekstrim, puasa bukan halangan bagi saya
ber-ekstrim ria. Ya inilah saya, meskipun wanita untuk perjalanan kali ini saya
memilih Puskesmas terjauh di atas pegunungan Alor, Puskesmas Padang Alang. Saat
sesi diskusi sebelumnya, saya sempat dilarang untuk naik ke padang alang.
Pertama, karena saya wanita; keduam karena saya berpuasa. Tapi keras kepala
saya tidak merubah keputusan dan hari ini, saya akan menginjakkan kaki di
tempat paling terpencil di Alor bernama Padang Alang, Horeeee.....mungkin
kalian berpikir saya gila hehhe.
Kami
sudah duduk rapi di dalam ambulans milik Dinkes Alor sejak jam setengah 7 pagi.
Tidak perlu menunggu lama, ambulans mulai bergerak meninggalkan hotel membawa
kami ber-7 menyusuri jalanan Alor yang
masih ter-aspal rapi. Parjalanan berikutnya mulai kami merasakan jalanan
berkelok dan berbatu. Tampak aspal sudah terkelupas. Kami sesekali
bergoyang-goyang di dalam mobil saat melewati jalanan berbatu. Tidak ada
kegiatan mengutak atik Hp, karena sinyal sudah hilang entah kemana.
Satu-satunya kegiatan yang dapat dilakukan adalah memanjakan mata, melihat
pemandangan yang terhampar dan menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang begitu
segar, yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di Surabaya. Ada hamparan
pegunungan, dan hamparan sawah hijau. Kabut pun masih ada yang tertinggal,
melayang layang dan sedikit-sedikit menghilang karena terpaan sinar mentari.
Inilah Desa Mainang. Tidak ada listrik sama sekali disini. Terletak dekat
dengan kota, namun tidak kebagian pasokan listrik. Tidak lama kami di desa ini
hanya mengantar teman kami yang bertugas di Puskesmas desa ini dan kami terus
melanjutkan perjalanan.
Aspal
semakin tidak terlihat, yang sering terlihat adalah serpihan batu-batu. Semakin
sering kami terkocok-kocok di dalam mobi ambulans. Kemudian tidak ada aspal
lagi yang kami lihat, hanya kombinasi tanah dan batu yang menjadi landasan
pijak kami. Kanan-kiri kami adalah semak belukar. Ini adalah tanda kami akan
memulai perjalanan di atas pegunungan. Memulai perjalanan terjal. Mobil yang
bisa melewati daerah ini adalah mobil double
garda, selain itu tidak disarankan melalui jalanan ini. Ambulans disini
juga sudah double garda karena alam
yang begitu garang. Perlu mendaki dan membelah hutan di antara terbing yang
terjal. Setelah melintasi bagian semak belukar, kami bertemu dengan
segerombolan anak-anak. Mereka menggendong seekor babi dan yang lain membawa
panah. Mungkin disini memanah dan berburu adalah permainan yang menyenangkan
bagi anak-anak disini disaat di kota asal kami bermain game di gadget diaggap permainan yang keren. Diantara
anak-anak yang berlari lari memegang panah, menggendong babi ada anak yang
sedang permain ban bekas. Dia menggelindingkannya di atas tanah berbatu dan
semak belukar. Dan tentu saja ada babi disana, umpan bagi saya untuk berteriak “Babi...babiii ada babiiii”. Dasar anak
kota masuk desa. Oh ya,, angkutan umum hanya 1 kali per bulan saja singgah ke
desa ini dan desa lainnya di atas pegunungan ini.

Kesimpulan dini saya, mengapa disini
sering terjadi outbreak campak, gizi
buruk dan sejuta permasalahan lainnya adalah 1 kata AKSES. AKSES berdampak pada
keterbatasan seluruh sektor, baik kesehatan maupun non kesehatan. Dan mungkin
juga ada kaitannya dengan perlambatan pertumbuhan penduduk.
# Bunga Kemiri
atau Mawar Hutan??
Landasan pijak kami berganti ganti
tapi kali ini adalah tanah. Tanah merah yang cukup licin jika sedang hujan. Di
beberapa sisi masih ada kubangan air. Pepohonan semakin rapat. Oke kami sudah
masuk membelah hutan Om Heri yang mengantar kami hari itu bercerita kalau saat
Dinkes melakukan perjalanan ke Padang Alang sedang turun hujan. Arus air sangat
deras turun dari tanjakan dan mereka harus naik melawan arus. Pernah juga
karena musim hujan ambulans tidak bisa dipaksa berjalan lagi. Terjebak diantara
tanah merah dan lumpur. Mereka pulang berjalan kaki hingga Kalabahi. Oh
God,,,saya mendengar cerita saja sudah mengelus dada,, pertaruhan besar tenaga
kesehatan disini. Ambulans ini membawa kami semakin dalam menyusuri hutan
pegunungan ini. Naik-turun, terguncang-guncang terasa sangat menyenangkan di
tengah teriknya maentari Ramadhan di Bumi Alor. heemhhh bau harum menusuk
hidung. “bau apa ini om??” saya
bertanya pada salah satu pendamping dari Dinkes yang duduk disamping saya (lupa
namanya siapa, maap :D ). “kemiri
mungkin” katanya. Saya hanya manggut
manggut. Tapi kemudian, jawaban diralat “mungkin
mawar hutan” ahhh..mawar hutan,
seperti apa bentuknya mawar hutan, sudahlah lupakan. Tidak terasa kami
sudah melihat hamparan laut biru di depan kami, seperti elang melihat dari
ketinggian. Jalanan berbatu besar dan samping kami adalah jurang, itu
mengerikan. Saat kami sedang di ketinggian, kami melihat speedboat teman-teman melintas. Nampaknya konsetrasi untuk menyapa speedboat kami dari ketinggian harus
diurungkan, karena di depan ada jalan sempit menikung yang berdampingan dengan
jurang, geser sedikit...ya terjun bebas. Ujian jalan terjal kami lulus dan
kembali menyusuri pantai bertemu teman-teman.
Saat kami sampai teman-teman sedang
bergantian menyebrang ke bibir pantai, naik ketinting. Disini tidak ada dermaga
di samping boat kami ada kapal motor.
kapal motor juga tidak setiap hari mangkal disini, hanya pada hari hari
tertentu. Tapi lebih sering dibanding angkutan darat. Ah... ternyata di dalam
kapal motor ada petugas kesehatan Puskesmas Padang Alang. Rupanya mereka bersiap
untuk pergi ke kota. Melihat speedboat
kami, mereka langsung turun dari kapal motor.
“tidak ada konfirmasi” ucap
mereka pertama kali. Delay informasi
sudah biasa sepertinya terjadi, sinyal Hp disini jangan ditanya lagi “TIDAK
ADA”. Padang Alang masih harus mendaki lagi, kami menawarkan para nakes ikut
serta dalam ambulans kami mereka memilih untuk berjalan selama 1 jam membelah
hutan oke,,baiklah.
Mendaki ke Padang Alang lebih
ekstrim daripada perjalanan sebelumnya. Jalan tanah yang lebih berbatu,
dann.....kami melewati tanjakan tajam, aku berpikir mungkin mobil ini akan
terbalik dari saking terjalnya. Susah payanh menaiki tanjakan yang bisa
dikatakan itu hampir vertikal sempurna fyuhhhh...akhirnya menemukan jalan
setapak. Kami berhenti disini. Ada yang “nyangkut” saat mendaki di tanjakan
terjal tadi. Lagi lagi mengelus dada..susah sekali menjadi tenaga kesehatan
disini. Mereka bekerja sangat ekstra, tapi mendapat upah yang sama dengan
kebanyakan tenaga kesehatan di Jawa. Ahh...mungkin ini bisa dikatakan tidak
adil. Disaat tenaga kesehatan di jawa menyetir mobil mentereng, disini pergi ke
Puskesmas saja jalan kaki mendaki, melewati hutan. Terbatas sekali untuk
sekedar mencicip hingar bingar Kalabahi, tidak lebih.
Jalan Setapak Menuju Puskemas Padang Alang
#Padang Alang
“Oto..Oto...Oto...” anak-anak
berhamburan dari sekolahnya berteriak sambil mengejar ambulans kami. Om Heri
sesekali berteriak agar berhenti mengejar takut kena batu yang mungkin
terpelanting terinjak ban mobil kami. Inilah padang alang, setelah menempuh
perjalanan kurang lebih 4 jam. Jika perjalanan dari Surabaya, ini sudah sampai
ke rumah saya di Madura. Anak-anak kecil
ini tetap mengerubuti ambulans kami, seperti semut menemukan gula. Mobil adalah
benda luar biasa buat mereka, karena jarang sekali ada mobil singgah disini. Anak-anak
ini sepertinya sudah pulang sekolah, tapi kalau kita lihat dengan seksama
sangat warna warni. Seragam ada yang pakai seragam, ada yang pakai kaos
olahraga. Alas kaki pun begitu, ada yang pakai sepatu, pakai sandal ada pula
yang bangga pergi sekolah bertelanjang kaki. Mereka “anak-anak pelangi”, saking
warna warninya. Tapi yang mengerikan sekelas anak SD mereka bawa parang,
mungkin kalau di Jakarta sudah diciduk Polisi disangka mau tawuran. Ehh
ternyata, parang memang selalu mereka bawa karena rumah mereka jauh, harus
menembus hutan. Parang untuk senjata mereka kalau bertemu binatang buas di
hutan (aaaahhhhh mau sekolah aja pake ketemu biantang buas).


Sekolah Padang Alang
mungkin mewakili kisah pilu sekolah-sekolah lain di pelosok Indonesia. Anak
sekecil ini dengan semangatnya bersekolah, namun tidak terfasilitasi dengan
baik oleh pemimpin negeri ini. Janji kemerdekaan jelas tanpa cela belum
terlunasi di sini, di Padang Alang. Fasilitas berbeda, namun mengerjakan soal
UNAS yang sama sulitnya dengan anak-anak di Jawa. Sungguh sangat pilu.. ahhh
lagi lagi saya harus teriak ini benar benar jauh dari adil.
Para tenaga kesehatan belum sampai, kami
menunggunya di bale-bale berbentuk rumah tradisional NTT di samping Puskesmas.
sekali lagi di desa ini NO SIGNAL, NO LISTRIK dan airnya LIMITED EDITION,
baiklah komplit. Ceritanya, kalau mau dapat sinyal Hp, harus naik dulu ke
pegunungan yang lebih tinggi. Perjalanannya cukup dengan 2 jam jalan kaki
hhheeeeeeeeerrgggghh....mungkin kalo kantor pos ada disini laris manis. Saya
yang bertugas di Puskesmas ini melakukan tanya jawab. Si Joni selalu membuat
tidak tenang bertanya jawab karena selalu lewat di bawah kursi. Si Joni adalah
anjing penjaga Puskesmas, si anjing dalmatians (dikitttt). Tugas joni yang utama
adalah menjaga gudang makanan yang isinya biskuit bantuan dari kementrian
kesehatan. aahhh agak bingung juga ngapain joni susah susah jagain itu gudang.
Oh ternyata... biskuit bantuan itu sering kali dicuri masyarakat sekitar. Harus
berapa kali saya mengelus dada, ada apa ini. mungkin bagi kalian biskuit
bantuan kalah prestige sama sepotong
ayam kentucky, tapi di padang alang biskuit ini jadi sangat prestige sampai sampai di curi. Belum
lagi saat mendengar cerita, ketika mereka harus melalukan kunjungan Posyandu,
mereka harus JALAN KAKI sambil MENGGOTONG OBAT sampai desa terjauh berbatasan
dengan wilayah kerja Puskesmas Mademang. Saya tidak tau harus mengatakan apa. Ambulans
tidak terlihat disana. Mungkin antara akses terbatas, fasilitas kesehatan
dan pendudukung yang kurang memadai berkorelasi positif dengan pertumbuhan
penduduk yang cenderung defisit.

Istirahat Dulu Tunggu Nakes yang Lagi OTW
#Penumpang-Penumpang
Baru
Menjelang sore
kami bertolak dari Padang Alang. Rencananya kami akan singgah dahulu ke salah
satu puskesmas baru, Puskesmas Kalunan (semoga tidak salah). Ah tapi kami
menjemput bapak Camat dahulu. Sebelum kami, sampai di bibir pantai tadi siang
kami bertemu pak camat. Pak camat memberhentikan ambulans kami. Sedikit
berbincang rupanya pak camat ingin menumpang mobil kami ke Kalabahi. Seperti
bapak pejabat yang lain, bapak camat disini sangat sederhana. Mobil kembali
melaju menuju Puskemas Kalunan. Jalanannya sungguh parah. Berkali-kali kami
terkocok-kocok. Saling berpegangan, termasuk berpegangan pada celana pak camat.
Mungkin kalau itu terjadi di Jawa, kami sudah dianggap tidak sopan. Melewati
tanjakan dan turun lagi ke menyisir bibir pantai berbatu. di tengah perjalanan
kami juga bertemu dengan mobil hardtop membawa bantuan untuk puskesmas. Disini
bantuan terbanyak bersal dari Australia. Hari sudah sore saat kami sampai di
Puskesmas Kalunan. Tidak terlalu lama kami disini, karena masih baru tidak
terlalu banyak data yang bisa kami salin. Air bersih tidak ada disini. MCK
dilakukan di kali berair payau di belakang Puskesmas, tidak terkecuali Pak
kepala Puskemas. Di perjalanan pulang kami, kami melewati kali ini,
berdampingan dengan laut. Ada yang mencuci ada yang gosok gigi. Seharusnya
mereka dapat air yang bersih. Menurut pak kepala puskesmas, kejadian penyakit
akibat nyamuk cukup tinggi disini.


Pantai Depan Puskemas Kawulan (Baju Kuning Pak Camat)
(Bukan) Laskar Pelangi
Gosok Gigi di Kali Air Payau (Sumber Air Bersih)
Cuci Baju (Sumber Air Bersih)
Meninggalkan
Padang Alang dan Kawulan, menyisakan kenangan dan tak hentinya bersyukur. Hari
semakin sore, roda mobil kami berputar menyisir pantai dan kali ini kembali
mendaki tebing, menyibak belukar. Di tengah tanjakan mobil kami berhenti. Oke
ini di atas pengunungan, menjelang sore dan ini adalah hutan, oke fix. Ada mata
air disana kami bisa mencuci muka, sedikit menyegarkan badan ini setelah
perjalanan panjang, hemmhh....dingin. beberapa menit kami menunggu, si mobil
sehat lagi tapi double gardan tidak
berfungsi. Tapi tidak apa yang penting bisa sampai Kalabahi. kami hampir
benar-benar lupa kalau kami sedang berpuasa hari ini. Salah satu pendamping
dari Dinkes yang mengigatkan, ini sudah masuk Maghrib dan bertanya akan berbuka
dimana. Kami jawab di mobil saja agar tidak kemalaman. Kembali kami masuk
hutan, wangi bunga ambigu (bunga kemiri atau mawar hutan) semakin tajam.
Menyegarkan hidung kami, benar-benar aromaterapi alami hehhe. Matahari beranjak
tidur, berubah petang. Dan kami masih meniti setiap batu dan jalanan terjal di
dalam hutan ini. Sesekali Om Heri memberi aba-aba “sedikit kasar ya” dan refleks kami berpegangan dan kami
terkocok-kocok di dalamnya. Sangat terasa ban ini berputar-putar di tanah merah
yang licin dan heeemm hampir saja tergelincir ke jurang di samping kami.
Sekali lagi kami
diingatkan berbuka. Bagi saya ini adalah buka puasa ternikmat. Jika saat ini
saya berbuka di rumah mungkin makanan warna-warni sudah saya lahap, mulai dari
es, kurma, nasi, sayur dan berbagai pilihan lauk. Tapi disini, hanya sebotol
air mineral ukuran 1 liter, wafer dan beberapa kaleng softdrink. Kami minum
bergantian sambil dikocok-kocok kerna mobil kami berpijak pada bebatuan yang
terjal. Kami harus tahu kapan kami harus minum agar tidak tersedak. Disinilah
saya belajar dan mencicip rasa nikmat berbagi. Samping kanan dan kiri sudah
gelap, pohon-pohon sudah berganti menjadi hitam. Terang rembulan tidak cukup
menerangi perjalanan kami. Lampu mobil kami membelah gelapnya hutan ini
dan...ada lelaki paruh baya, menggandeng anak kecil melambaikan tangan tanda
memberhentikan mobil kami. Sangat tidak peduli jika kami tidak berhenti, ini
hutan, gelap dan tidak ada rumah penduduk. Bapak dan anak ini menumpang mobil
kami dan kami harus berbagi. Seperti biasa mereka mebawa parang kemana-mana.
Anak yang duduk di samping bapak ini mungkin sekitar 5 tahun, kecil dan kurus.
Saat kami tanya darimana malam-malam begini. Bapak ini menjawab dari PUSTU DI APUI. Haahhh...kami yang orang kota seketika
terbelalak dan jika kami punya banyak makanan dan minuman rasanya ingin
diberikan ke bapak dan adek ini. Rumah bapak ini dekat Mainang dan bapak ini
sudah berjalan dari Pustu di Apui sejak jam 3 sore dan ini sudah jam 6 sore. 3
jam sudah bapak ini berjalan. Mendadak saya tidak merasa lapar, meskipun
berbuka dengan sepotong wafer dan air seadanya. Menurut bapak ini perjalanan
dengan jalan kaki dari rumahnya ke pustu di APUI bisa 5 jam (PP 10 jam,
pemirsaaaa) karena tahu jalan pintas. Parang berfungsi untuk menebas belukar
dan binatang buas tentunya. Kata bapak ini kalau bukan orang asli sini, bisa
jadi 7 jam perjalanan (PP 14 jam pemirrsssaaaa #pingsan). Disinilah tak henti
hentinya bersyukur. Ini Ramadhan ternikmat. Sepanjang perjalanan kami juga
sibuk membicarakan swanggi. Alor kota
yang mistis, katanya ada orang yang bisa terbang kemana-mana bahkan mereka
punya perkumpulan internasional waaaaaaww :D . Mereka mulai bercerita swanggi tidak makan pisang emas sampai
pernah menemukan swanggi. Oh ya rencananya kami akan singgah di Apui malam ini,
namun diurungkan karena kami tidak bawa baju ganti. Katanya jika menginap di
Apui, tengah malam akan mendengar suara kaki berjalan tapi tidak ada wujudnya.
Itu seram sekali gan, dan Apui sangat dingin. Tidak terasa kami sudah mendekati
Mainang. Bapak dan adik kecil ini turun, kami memberikan semua makanan yang
kami miliki termasuk softdrink yang masih tersisa. Kami bisa membelinya lagi di
Kalabahi, bahkan di Surabaya bisa kami membelinya dimana saja.
Melintasi
Puskesmas mainang sudah sepi, semuanya gelap. memang tidak ada listrik disini.
Sepertinya teman kami sudah kembali ke kota. Perjalanan kami lanjutkan. Setelah
mengantar pak camat, mobil kami melaju ke hotel. Perjalanan hari ini berakhir
dengan penuh kenangan yang patut disyukuri.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar