Malam hari
setelah istirahat di hotel kami di Kalabahi rupanya pusing akibat foker tidak
kunjug hilang. Bahkan, hingga adzan berbuka. Baru kali ini berpuasa sejauh ini.
tapi kami sempat bingung saat petang tiba, sudah masuk waktu berbuka belum ya??
Akhirnya kami bertanya pada 2 wanita yang menjaga hotel ini, ahh sayang sekali
mereka tidak tahu. Baiklah kami menunggu J
#Kehidupan Umat Beragama di Alor
![]() |
| Bukti Kerukunan Antar Umat Beragama, Upacara Adat Semua Suku Alor berkumpul Menari Lego-Lego (by: http://smellofoaks.wordpress.com/) |
Hotel kami
berada di Kalabahi, wilayah dengan penduduk terpadat di Alor. kalabahi adalah
daerah yang masih termasuk dalam Kecamatan Teluk Mutiara. Karena Kalabahi
adalah pusat pemerintahan, maka pendatang banyak yang bermukin di wilayah ini.
di kalabahi kami bisa menemui warung jawa, bahkan warung di sebelah hotel kami
penjualnya adalah orang Madura. Waaahhh...sebangsa dan setanah air dengan saya
heheh tetapi urusan harga, tetap ikut harga Alor bukan harga saudara hehhee,,,,.
Pendatang di Alor ini biasanya berasal dari Sulawesi, Jawa dan daerah lainnya.
Adanya pendatang membuat agama di Kalabahi ini sangat beragam dibandingkan
wilayah lainnya. Agama yang ada di Kalabahi Kristen 57,26%, Islam 35,47%,
Katolik 6,92% dan Hindu/Budha 0,35% dari seluruh populasi di Kecamatan Teluk
Mutiara (BPS, 2012). Biasanya, penduduk beragama Islam bermukim di pesisir dan
penduduk Kristen/Katolik bermukim di pegunungan.
Saat ini adalah
Bulan ramadhan, tentu saja suara adzan penting bagi kami. Dan ternyata,,, tidak
sulit bagi kami untuk mendengar adzan. Jelas, sangat jelas. Kehidupan antar
umat beragama di Alor ini sangat baik, tenang dan selaras. Menurut cerita, penduduk non muslim tidak
segan untuk membantu penduduk muslim yang sedang membangun masjid, begitu pula
sebaliknya. Bahkan kerap dijumpai dalam keluarga terdapat agama yang berbeda antar
anggota keluarga. Ada juga yang menjatah agama apa yang akan dipeluk, jika si
Kakak Kristen maka si adik memeluk Islam. Di kantor pemerintah juga demikian. Saat
Ramadhan seperti saat ini tenaga kerja muslim diperbolehkan pulang setengah jam
lebih awal, sedangkan yang non muslim tetap sesuai jadwal. Tidak ada konflik
dengan kebijakan ini, Alhamdulillah. Sungguh indah semoga selalu damai seperti
ini selama lama lama lamanya...J.
Tiba waktunya
sahur. Mungkin kami akan kelaparan esok pagi kalau pak satpam hotel ini tidak
membangunkan kami. Ya bapak satpam ini non muslim tapi tahu jadwal sahur kami. Thanks a lot pak satpam atas gedoran di
pintu kamar kami dan berteriak “sahur..sahur”.Well
it’s a real consideration alias toleransi antar umat beragama :D semoga
selalu damai kota seribu MOKO,,,
#Preparation...
Hari kedua ini
adalah hari yang bisa dibilang cukup tenang. Acara hari ini hanya diisi dengan permohonan
izin mengambil data. Kami disebar di Dinkes dan beberapa Puskesmas yang
terjangkau di sekitar Kalabahi. terdapat 21 Puskesmas di Alor ini dan kami akan
kami kunjungi. Esok hari adalah hari yang ditunggu. Besok kami akan menjelajah
ke Pulau Pantar. Ada 5 Puskesmas yang kami tuju, yaitu Puskesmas Tamalabang,
Maliang, Kabir, Baranusa dan Kayang. Kayang adalah Puskesmas terjauh, tidak ada
dermaga disana dan menurut penduduk setempat omabk lautnya luar biasa besar
(sepertinya keren ehhehe). Saya memilih Baranusa, Puskesmas terjauh ke-2 (nekat
:p ).
![]() |
| Full Team di atas boat, persiapan menuju Pulau Pantar |
Pagi-pagi
sekali, sekitar pukul 6 pagi WIT kami sudah bersiap di pelabuhan. Kami akan menjelajah
ke Pulau pantar hari ini. saya pikir akan menggunakan perahu motor hehhe, eh
ternyata menggunakan boat. boat
yang akan kami pakai ini rupanya Puskesmas kelilin milik Dinkes Alor.
Saya rasa wilayah yang terfragmentasi dalam pulau-pulau perlu memikirkan untuk menyediakan
fasilitas kesehatan berupa boat.
Jelas hal ini akan mempermudah dan mempercepat akses masyarakat yang terbatas
secara geografis terhadap pelayanan kesehatan. Meskipun saya rasa dengan 1 boat ini belum mampu mengakomodasi
kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Jika kita lihat
kembali proyeksi penduduk Kabupaten Alor, pertumbuhan penduduk di
wilayah-wilayah terbatas secara geografis, termasuk Pulau Pantar ini cukup
lambat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di daerah Kecamatan Teluk Mutiara,
seperti Kalabahi, Mebung dll. Apakah ini indikator bahwa KB berhasil di Pulau
Pantar dan daerah lainnya yang mengalami pertumbuhan penduduk lambat???
Saya rasa ada
hal lain yang perlu pikirkan mengapa pertumbuhan penduduk di daerah terbatas
geografis ini mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan ada pula yang sudah dan aka minus (-) 5 tahun ke depan. Salah satunya dari segi kesehatan masyarakat, terutama di saat
sakit. Masyarakat yang sakit tentu memerlukan pengobatan. Kualitas pelayanan kesehatan
di daerah berperan penting dari segi kuratif maupun promotif, pereventif bagi
masyarakat di daerah seperti ini. Kualitas pelayanan kesehatan ini tidak melulu
diukur atas tersedianya fisik fasilitas kesehatan yang baik dan alat kesehatan
yang lengkap. Namun, poin pentingnya adalah apakah tersedia fasilitas yang
terjangkau secara finansial (biaya) dan non finansial (akses) yang didukung
dengan adanya tenaga kesehatan yang kompeten serta ketersediaan logistik yang
cukup. Melihat pada data BPS tahun 2012, daerah terbatas secara geografis ini
masih ada yang tidak memiliki tenaga kesehatan, misal di Lembur tidak ada
tenaga kesehatan. Namun ada pula tenaga kesehatan tersedia meskipun terbatas
dan dokter tidak ada seperti di Pantar Barat, Pantar Barat laut. Masalah
kesehatan yang sering dihadapi di Alor terkait dengan kematian ibu dan bayi,
balita gizi buruk dan kurang dan penyakit infeksi lainnya. dan perlu diketahui
bahwa saat ini Provinsi NTT sedang menggalakkan program Revolusi KIA yang
menyebutkan Kabupaten Alor mengalami peningkatan terbesar persalinan ditolong
tenaga kesehatan yakni dari 63, 89 persen pada 2011 menjadi 99, 36 persen pada
2012 (www.indonesiarayanews.com).
Nampaknya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut ada apa dibalik perlambatan
pertumbuhan penduduk di beberapa daerah di Kabupaten Alor???
#Menuju Pantar...
Matahari sudah
mulai naik, cukup terik. Kami semua sudah berada di dalam boat. Tempat favorit saya adalah dek boat. Disini saya bisa melihat indahnya alor sebenarnya tanpa
terlewati. Perjalanan hari ini akan menempuh rute Tamalabang-Maliang-Kabir-Baranusa-Kayang.
Kami melintasi pulau-pulau yang ada di Kepulauan Alor. Ada pulau buaya. Asal
muasal Pulau ini disebut Pulau Buaya karena bentuknya seperti buaya. Oh ya,, selain kami, ada juga perwakilan
Dinkes yang mengantar kami dan kepala Puskesmas Kayang. Pertama kali melihat
beliau berdiri di dek sambil mengutak atik Hp nokia hitam putih yang diikat
dengan karet gelang, saya pikir beliau termasuk kru boat eh ternyata bapak kepala puskesmas (maap pak kapus :D ). Ya
beginilah kalau anak kota masuk desa, di Surabaya status jabatan sebagai Kepala
Puskemas kebanyakan sudah pakai gadget keren,,, :D dalam perjalanan ini saya
melihat perahu-perahu ketinting mengambang di atas goyangan ombak dan dengan
segera jala ditebar. Menurut masyarakat Alor ombak akan naik di atas pukul 12
siang sehingga masyarakat akan mencari ikan di pagi hari dan akan pulang
sebelum siang. 2 hal yang sering saya tanyakan dengan heboh dalam perjalanan
ini, “ada hiu lewat sini, om (para bapak
di Alor biasa dipanggil om, dan mama untuk para ibu)??? dan “kalau paus ada tidak di laut ini ??”
konyol sekali mungkin lebih tepatnya ndeso
hahaha..
![]() |
| View dari Tamalabang |
Saat boat ini berputar ke Tamalabang saya
melihat di tebing tepi laut ini ada tanda “salib”. Penasaran sekali mengapa tanda
“salib” dipajang dipinggir karang? Apa itu kuburan? Ahh.. rupanya itu adalah
tanda bahwa disitu pernah terjadi kecelakaan perahu motor dengan banyak korban.
Kalau tidak salah selama perjalan saya melihat 2. Menurut pendamping dari
Dinkes banyak sekali korban yang tidak ditemukan waktu itu. Mungkin masuk ke
palung laut. Menurut mereka ada banyak palung laut dan pusaran air. Jadi perahu
motor dan jenis perahu lainnya harus hati-hati agar tidak “kesedot”. Cerita
dari pendamping Dinkes ini ada korban yang ditemukan tapi sudah tidak utuh.
Mungkin dimakan Hiu karena tempat penemuan korban memang banyak hiu (aaahhh kalau yang ini benar mengerikan).
setiap perjalanan, masyarakat bertaruh nyawa di laut ini,,,,
Kurang lebih 1
jam perjalan kami tempuh ke Tamalabang. Hari semakin siang, matahari semakin
terik, mungkin jika hari ini saya berpuasa di rumah saya sudah tidur di bawa
kipas angin. Tapi disini, saya menikmati puasa, duduk di dek menikmati hijau
dan birunya pemndangan, teriknya matahari?? Abaikan. Sudah 2 jam perjalanan
kami tiba di Kabir. Hanya 6 orang pengambil data yang tersisa dalam boat ini.
To be continue......
.jpg)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar