Kamis, 01 Mei 2014

Merekam Jejak di ALOR: 13 Hari Menjelajah Part 1

Malam hari setelah istirahat di hotel kami di Kalabahi rupanya pusing akibat foker tidak kunjug hilang. Bahkan, hingga adzan berbuka. Baru kali ini berpuasa sejauh ini. tapi kami sempat bingung saat petang tiba, sudah masuk waktu berbuka belum ya?? Akhirnya kami bertanya pada 2 wanita yang menjaga hotel ini, ahh sayang sekali mereka tidak tahu. Baiklah kami menunggu J

#Kehidupan Umat Beragama di Alor

Bukti Kerukunan Antar Umat Beragama, Upacara Adat Semua Suku Alor berkumpul Menari Lego-Lego (by: http://smellofoaks.wordpress.com/)
Hotel kami berada di Kalabahi, wilayah dengan penduduk terpadat di Alor. kalabahi adalah daerah yang masih termasuk dalam Kecamatan Teluk Mutiara. Karena Kalabahi adalah pusat pemerintahan, maka pendatang banyak yang bermukin di wilayah ini. di kalabahi kami bisa menemui warung jawa, bahkan warung di sebelah hotel kami penjualnya adalah orang Madura. Waaahhh...sebangsa dan setanah air dengan saya heheh tetapi urusan harga, tetap ikut harga Alor bukan harga saudara hehhee,,,,. Pendatang di Alor ini biasanya berasal dari Sulawesi, Jawa dan daerah lainnya. Adanya pendatang membuat agama di Kalabahi ini sangat beragam dibandingkan wilayah lainnya. Agama yang ada di Kalabahi Kristen 57,26%, Islam 35,47%, Katolik 6,92% dan Hindu/Budha 0,35% dari seluruh populasi di Kecamatan Teluk Mutiara (BPS, 2012). Biasanya, penduduk beragama Islam bermukim di pesisir dan penduduk Kristen/Katolik bermukim di pegunungan.

Saat ini adalah Bulan ramadhan, tentu saja suara adzan penting bagi kami. Dan ternyata,,, tidak sulit bagi kami untuk mendengar adzan. Jelas, sangat jelas. Kehidupan antar umat beragama di Alor ini sangat baik, tenang dan selaras.  Menurut cerita, penduduk non muslim tidak segan untuk membantu penduduk muslim yang sedang membangun masjid, begitu pula sebaliknya. Bahkan kerap dijumpai dalam keluarga terdapat agama yang berbeda antar anggota keluarga. Ada juga yang menjatah agama apa yang akan dipeluk, jika si Kakak Kristen maka si adik memeluk Islam. Di kantor pemerintah juga demikian. Saat Ramadhan seperti saat ini tenaga kerja muslim diperbolehkan pulang setengah jam lebih awal, sedangkan yang non muslim tetap sesuai jadwal. Tidak ada konflik dengan kebijakan ini, Alhamdulillah. Sungguh indah semoga selalu damai seperti ini selama lama lama lamanya...J.

Tiba waktunya sahur. Mungkin kami akan kelaparan esok pagi kalau pak satpam hotel ini tidak membangunkan kami. Ya bapak satpam ini non muslim tapi tahu jadwal sahur kami. Thanks a lot pak satpam atas gedoran di pintu kamar kami dan berteriak “sahur..sahur”.Well it’s a real consideration alias toleransi antar umat beragama :D semoga selalu damai kota seribu MOKO,,,

#Preparation...

Hari kedua ini adalah hari yang bisa dibilang cukup tenang. Acara hari ini hanya diisi dengan permohonan izin mengambil data. Kami disebar di Dinkes dan beberapa Puskesmas yang terjangkau di sekitar Kalabahi. terdapat 21 Puskesmas di Alor ini dan kami akan kami kunjungi. Esok hari adalah hari yang ditunggu. Besok kami akan menjelajah ke Pulau Pantar. Ada 5 Puskesmas yang kami tuju, yaitu Puskesmas Tamalabang, Maliang, Kabir, Baranusa dan Kayang. Kayang adalah Puskesmas terjauh, tidak ada dermaga disana dan menurut penduduk setempat omabk lautnya luar biasa besar (sepertinya keren ehhehe). Saya memilih Baranusa, Puskesmas terjauh ke-2 (nekat :p ).

Full Team di atas boat, persiapan menuju Pulau Pantar

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi WIT kami sudah bersiap di pelabuhan. Kami akan menjelajah ke Pulau pantar hari ini. saya pikir akan menggunakan perahu motor hehhe, eh ternyata menggunakan boat. boat  yang akan kami pakai ini rupanya Puskesmas kelilin milik Dinkes Alor. Saya rasa wilayah yang terfragmentasi dalam pulau-pulau perlu memikirkan untuk menyediakan fasilitas kesehatan berupa boat. Jelas hal ini akan mempermudah dan mempercepat akses masyarakat yang terbatas secara geografis terhadap pelayanan kesehatan. Meskipun saya rasa dengan 1 boat ini belum mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Jika kita lihat kembali proyeksi penduduk Kabupaten Alor, pertumbuhan penduduk di wilayah-wilayah terbatas secara geografis, termasuk Pulau Pantar ini cukup lambat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di daerah Kecamatan Teluk Mutiara, seperti Kalabahi, Mebung dll. Apakah ini indikator bahwa KB berhasil di Pulau Pantar dan daerah lainnya yang mengalami pertumbuhan penduduk lambat???

Saya rasa ada hal lain yang perlu pikirkan mengapa pertumbuhan penduduk di daerah terbatas geografis ini mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan ada pula yang sudah dan aka minus (-) 5 tahun ke depan. Salah satunya dari segi kesehatan masyarakat, terutama di saat sakit. Masyarakat yang sakit tentu memerlukan pengobatan. Kualitas pelayanan kesehatan di daerah berperan penting dari segi kuratif maupun promotif, pereventif bagi masyarakat di daerah seperti ini. Kualitas pelayanan kesehatan ini tidak melulu diukur atas tersedianya fisik fasilitas kesehatan yang baik dan alat kesehatan yang lengkap. Namun, poin pentingnya adalah apakah tersedia fasilitas yang terjangkau secara finansial (biaya) dan non finansial (akses) yang didukung dengan adanya tenaga kesehatan yang kompeten serta ketersediaan logistik yang cukup. Melihat pada data BPS tahun 2012, daerah terbatas secara geografis ini masih ada yang tidak memiliki tenaga kesehatan, misal di Lembur tidak ada tenaga kesehatan. Namun ada pula tenaga kesehatan tersedia meskipun terbatas dan dokter tidak ada seperti di Pantar Barat, Pantar Barat laut. Masalah kesehatan yang sering dihadapi di Alor terkait dengan kematian ibu dan bayi, balita gizi buruk dan kurang dan penyakit infeksi lainnya. dan perlu diketahui bahwa saat ini Provinsi NTT sedang menggalakkan program Revolusi KIA yang menyebutkan Kabupaten Alor mengalami peningkatan terbesar persalinan ditolong tenaga kesehatan yakni dari 63, 89 persen pada 2011 menjadi 99, 36 persen pada 2012 (www.indonesiarayanews.com). Nampaknya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut ada apa dibalik perlambatan pertumbuhan penduduk di beberapa daerah di Kabupaten Alor???

#Menuju Pantar...

Matahari sudah mulai naik, cukup terik. Kami semua sudah berada di dalam boat. Tempat favorit saya adalah dek boat. Disini saya bisa melihat indahnya alor sebenarnya tanpa terlewati. Perjalanan hari ini akan menempuh rute Tamalabang-Maliang-Kabir-Baranusa-Kayang. Kami melintasi pulau-pulau yang ada di Kepulauan Alor. Ada pulau buaya. Asal muasal Pulau ini disebut Pulau Buaya karena bentuknya seperti buaya.  Oh ya,, selain kami, ada juga perwakilan Dinkes yang mengantar kami dan kepala Puskesmas Kayang. Pertama kali melihat beliau berdiri di dek sambil mengutak atik Hp nokia hitam putih yang diikat dengan karet gelang, saya pikir beliau termasuk kru boat eh ternyata bapak kepala puskesmas (maap pak kapus :D ). Ya beginilah kalau anak kota masuk desa, di Surabaya status jabatan sebagai Kepala Puskemas kebanyakan sudah pakai gadget keren,,, :D dalam perjalanan ini saya melihat perahu-perahu ketinting mengambang di atas goyangan ombak dan dengan segera jala ditebar. Menurut masyarakat Alor ombak akan naik di atas pukul 12 siang sehingga masyarakat akan mencari ikan di pagi hari dan akan pulang sebelum siang. 2 hal yang sering saya tanyakan dengan heboh dalam perjalanan ini, “ada hiu lewat sini, om (para bapak di Alor biasa dipanggil om, dan mama untuk para ibu)??? dan “kalau paus ada tidak di laut ini ??” konyol sekali mungkin lebih tepatnya ndeso hahaha..

View dari Tamalabang
Saat boat ini berputar ke Tamalabang saya melihat di tebing tepi laut ini ada tanda “salib”. Penasaran sekali mengapa tanda “salib” dipajang dipinggir karang? Apa itu kuburan? Ahh.. rupanya itu adalah tanda bahwa disitu pernah terjadi kecelakaan perahu motor dengan banyak korban. Kalau tidak salah selama perjalan saya melihat 2. Menurut pendamping dari Dinkes banyak sekali korban yang tidak ditemukan waktu itu. Mungkin masuk ke palung laut. Menurut mereka ada banyak palung laut dan pusaran air. Jadi perahu motor dan jenis perahu lainnya harus hati-hati agar tidak “kesedot”. Cerita dari pendamping Dinkes ini ada korban yang ditemukan tapi sudah tidak utuh. Mungkin dimakan Hiu karena tempat penemuan korban memang banyak hiu (aaahhh kalau yang ini benar mengerikan). setiap perjalanan, masyarakat bertaruh nyawa di laut ini,,,,

Kurang lebih 1 jam perjalan kami tempuh ke Tamalabang. Hari semakin siang, matahari semakin terik, mungkin jika hari ini saya berpuasa di rumah saya sudah tidur di bawa kipas angin. Tapi disini, saya menikmati puasa, duduk di dek menikmati hijau dan birunya pemndangan, teriknya matahari?? Abaikan. Sudah 2 jam perjalanan kami tiba di Kabir. Hanya 6 orang pengambil data yang tersisa dalam boat ini.

To be continue......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar