Senin, 19 Mei 2014

Merekam Jejak di ALOR: 13 Hari Menjelajah Part 3

#Perjalanan DaratTibalah saatnya untuk berkunjung ke Puskesmas di balik pegunungan Alor Besar. Setelah sebelumnya, mengunjungi Bakalang dan Pulau Pura. Ada 2 masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat di Pulau Pura adalah keterbatasan tenaga kesehatan dan minimnya air bersih. Buraga? Puskesmas ini memiliki pantai indah hanya sekitar 100 meter dari halaman puskesmas. air lautnya bergradasi,,,indaaaahh sekali. Meskipun kita di Puskesmas tetap menemukan surga. Namun fasilitas yang tersedia di puskesmas ini cukup jauh untuk dikatakan “surga” bagi masyarakat yang butuh kesehatan. 

Puskesmas Bakalang

View Depan Puskemas Bakalang

Oke kembali lagi..
Hari ini kami akan menempuh perjalanan panjang mulai Puskesmas Buraga hingga Puskemas Mademang. Kabarnya dari Puskesmas Mademang kita bisa melihat Timor Leste, waoow. Perjalanan kali ini akan ditempuh menggunakan 2 moda transportasi, darat dan laut. Ingin melihat alam Alor lebih dekat dan mencoba ganasnya alam Alor, saya memilih melakukan perjalanan darat. Saeperti biasa, saya wanita penggila kegiatan ekstrim, puasa bukan halangan bagi saya ber-ekstrim ria. Ya inilah saya, meskipun wanita untuk perjalanan kali ini saya memilih Puskesmas terjauh di atas pegunungan Alor, Puskesmas Padang Alang. Saat sesi diskusi sebelumnya, saya sempat dilarang untuk naik ke padang alang. Pertama, karena saya wanita; keduam karena saya berpuasa. Tapi keras kepala saya tidak merubah keputusan dan hari ini, saya akan menginjakkan kaki di tempat paling terpencil di Alor bernama Padang Alang, Horeeee.....mungkin kalian berpikir saya gila hehhe.

Kami sudah duduk rapi di dalam ambulans milik Dinkes Alor sejak jam setengah 7 pagi. Tidak perlu menunggu lama, ambulans mulai bergerak meninggalkan hotel membawa kami  ber-7 menyusuri jalanan Alor yang masih ter-aspal rapi. Parjalanan berikutnya mulai kami merasakan jalanan berkelok dan berbatu. Tampak aspal sudah terkelupas. Kami sesekali bergoyang-goyang di dalam mobil saat melewati jalanan berbatu. Tidak ada kegiatan mengutak atik Hp, karena sinyal sudah hilang entah kemana. Satu-satunya kegiatan yang dapat dilakukan adalah memanjakan mata, melihat pemandangan yang terhampar dan menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang begitu segar, yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di Surabaya. Ada hamparan pegunungan, dan hamparan sawah hijau. Kabut pun masih ada yang tertinggal, melayang layang dan sedikit-sedikit menghilang karena terpaan sinar mentari. Inilah Desa Mainang. Tidak ada listrik sama sekali disini. Terletak dekat dengan kota, namun tidak kebagian pasokan listrik. Tidak lama kami di desa ini hanya mengantar teman kami yang bertugas di Puskesmas desa ini dan kami terus melanjutkan perjalanan.

Aspal semakin tidak terlihat, yang sering terlihat adalah serpihan batu-batu. Semakin sering kami terkocok-kocok di dalam mobi ambulans. Kemudian tidak ada aspal lagi yang kami lihat, hanya kombinasi tanah dan batu yang menjadi landasan pijak kami. Kanan-kiri kami adalah semak belukar. Ini adalah tanda kami akan memulai perjalanan di atas pegunungan. Memulai perjalanan terjal. Mobil yang bisa melewati daerah ini adalah mobil double garda, selain itu tidak disarankan melalui jalanan ini. Ambulans disini juga sudah double garda karena alam yang begitu garang. Perlu mendaki dan membelah hutan di antara terbing yang terjal. Setelah melintasi bagian semak belukar, kami bertemu dengan segerombolan anak-anak. Mereka menggendong seekor babi dan yang lain membawa panah. Mungkin disini memanah dan berburu adalah permainan yang menyenangkan bagi anak-anak disini disaat di kota asal kami bermain game di gadget diaggap permainan yang keren. Diantara anak-anak yang berlari lari memegang panah, menggendong babi ada anak yang sedang permain ban bekas. Dia menggelindingkannya di atas tanah berbatu dan semak belukar. Dan tentu saja ada babi disana, umpan bagi saya untuk berteriak “Babi...babiii ada babiiii”. Dasar anak kota masuk desa. Oh ya,, angkutan umum hanya 1 kali per bulan saja singgah ke desa ini dan desa lainnya di atas pegunungan ini.


Kesimpulan dini saya, mengapa disini sering terjadi outbreak campak, gizi buruk dan sejuta permasalahan lainnya adalah 1 kata AKSES. AKSES berdampak pada keterbatasan seluruh sektor, baik kesehatan maupun non kesehatan. Dan mungkin juga ada kaitannya dengan perlambatan pertumbuhan penduduk.

# Bunga Kemiri atau Mawar Hutan??
            Landasan pijak kami berganti ganti tapi kali ini adalah tanah. Tanah merah yang cukup licin jika sedang hujan. Di beberapa sisi masih ada kubangan air. Pepohonan semakin rapat. Oke kami sudah masuk membelah hutan Om Heri yang mengantar kami hari itu bercerita kalau saat Dinkes melakukan perjalanan ke Padang Alang sedang turun hujan. Arus air sangat deras turun dari tanjakan dan mereka harus naik melawan arus. Pernah juga karena musim hujan ambulans tidak bisa dipaksa berjalan lagi. Terjebak diantara tanah merah dan lumpur. Mereka pulang berjalan kaki hingga Kalabahi. Oh God,,,saya mendengar cerita saja sudah mengelus dada,, pertaruhan besar tenaga kesehatan disini. Ambulans ini membawa kami semakin dalam menyusuri hutan pegunungan ini. Naik-turun, terguncang-guncang terasa sangat menyenangkan di tengah teriknya maentari Ramadhan di Bumi Alor. heemhhh bau harum menusuk hidung. “bau apa ini om??” saya bertanya pada salah satu pendamping dari Dinkes yang duduk disamping saya (lupa namanya siapa, maap :D ). “kemiri mungkin”  katanya. Saya hanya manggut manggut. Tapi kemudian, jawaban diralat “mungkin mawar hutan” ahhh..mawar hutan,  seperti apa bentuknya mawar hutan, sudahlah lupakan. Tidak terasa kami sudah melihat hamparan laut biru di depan kami, seperti elang melihat dari ketinggian. Jalanan berbatu besar dan samping kami adalah jurang, itu mengerikan. Saat kami sedang di ketinggian, kami melihat speedboat teman-teman melintas. Nampaknya konsetrasi untuk menyapa speedboat kami dari ketinggian harus diurungkan, karena di depan ada jalan sempit menikung yang berdampingan dengan jurang, geser sedikit...ya terjun bebas. Ujian jalan terjal kami lulus dan kembali menyusuri pantai bertemu teman-teman.
            Saat kami sampai teman-teman sedang bergantian menyebrang ke bibir pantai, naik ketinting. Disini tidak ada dermaga di samping boat kami ada kapal motor. kapal motor juga tidak setiap hari mangkal disini, hanya pada hari hari tertentu. Tapi lebih sering dibanding angkutan darat. Ah... ternyata di dalam kapal motor ada petugas kesehatan Puskesmas Padang Alang. Rupanya mereka bersiap untuk pergi ke kota. Melihat speedboat kami, mereka langsung turun dari kapal motor.  “tidak ada konfirmasi” ucap mereka pertama kali. Delay informasi sudah biasa sepertinya terjadi, sinyal Hp disini jangan ditanya lagi “TIDAK ADA”. Padang Alang masih harus mendaki lagi, kami menawarkan para nakes ikut serta dalam ambulans kami mereka memilih untuk berjalan selama 1 jam membelah hutan oke,,baiklah.
            Mendaki ke Padang Alang lebih ekstrim daripada perjalanan sebelumnya. Jalan tanah yang lebih berbatu, dann.....kami melewati tanjakan tajam, aku berpikir mungkin mobil ini akan terbalik dari saking terjalnya. Susah payanh menaiki tanjakan yang bisa dikatakan itu hampir vertikal sempurna fyuhhhh...akhirnya menemukan jalan setapak. Kami berhenti disini. Ada yang “nyangkut” saat mendaki di tanjakan terjal tadi. Lagi lagi mengelus dada..susah sekali menjadi tenaga kesehatan disini. Mereka bekerja sangat ekstra, tapi mendapat upah yang sama dengan kebanyakan tenaga kesehatan di Jawa. Ahh...mungkin ini bisa dikatakan tidak adil. Disaat tenaga kesehatan di jawa menyetir mobil mentereng, disini pergi ke Puskesmas saja jalan kaki mendaki, melewati hutan. Terbatas sekali untuk sekedar mencicip hingar bingar Kalabahi, tidak lebih.

Jalan Setapak Menuju Puskemas Padang Alang


#Padang Alang
“Oto..Oto...Oto...” anak-anak berhamburan dari sekolahnya berteriak sambil mengejar ambulans kami. Om Heri sesekali berteriak agar berhenti mengejar takut kena batu yang mungkin terpelanting terinjak ban mobil kami. Inilah padang alang, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam. Jika perjalanan dari Surabaya, ini sudah sampai ke rumah saya di Madura.  Anak-anak kecil ini tetap mengerubuti ambulans kami, seperti semut menemukan gula. Mobil adalah benda luar biasa buat mereka, karena jarang sekali ada mobil singgah disini. Anak-anak ini sepertinya sudah pulang sekolah, tapi kalau kita lihat dengan seksama sangat warna warni. Seragam ada yang pakai seragam, ada yang pakai kaos olahraga. Alas kaki pun begitu, ada yang pakai sepatu, pakai sandal ada pula yang bangga pergi sekolah bertelanjang kaki. Mereka “anak-anak pelangi”, saking warna warninya. Tapi yang mengerikan sekelas anak SD mereka bawa parang, mungkin kalau di Jakarta sudah diciduk Polisi disangka mau tawuran. Ehh ternyata, parang memang selalu mereka bawa karena rumah mereka jauh, harus menembus hutan. Parang untuk senjata mereka kalau bertemu binatang buas di hutan (aaaahhhhh mau sekolah aja pake ketemu biantang buas).


Sekolah Padang Alang mungkin mewakili kisah pilu sekolah-sekolah lain di pelosok Indonesia. Anak sekecil ini dengan semangatnya bersekolah, namun tidak terfasilitasi dengan baik oleh pemimpin negeri ini. Janji kemerdekaan jelas tanpa cela belum terlunasi di sini, di Padang Alang. Fasilitas berbeda, namun mengerjakan soal UNAS yang sama sulitnya dengan anak-anak di Jawa. Sungguh sangat pilu.. ahhh lagi lagi saya harus teriak ini benar benar jauh dari adil. 

Para tenaga kesehatan belum sampai, kami menunggunya di bale-bale berbentuk rumah tradisional NTT di samping Puskesmas. sekali lagi di desa ini NO SIGNAL, NO LISTRIK dan airnya LIMITED EDITION, baiklah komplit. Ceritanya, kalau mau dapat sinyal Hp, harus naik dulu ke pegunungan yang lebih tinggi. Perjalanannya cukup dengan 2 jam jalan kaki hhheeeeeeeeerrgggghh....mungkin kalo kantor pos ada disini laris manis. Saya yang bertugas di Puskesmas ini melakukan tanya jawab. Si Joni selalu membuat tidak tenang bertanya jawab karena selalu lewat di bawah kursi. Si Joni adalah anjing penjaga Puskesmas, si anjing dalmatians (dikitttt). Tugas joni yang utama adalah menjaga gudang makanan yang isinya biskuit bantuan dari kementrian kesehatan. aahhh agak bingung juga ngapain joni susah susah jagain itu gudang. Oh ternyata... biskuit bantuan itu sering kali dicuri masyarakat sekitar. Harus berapa kali saya mengelus dada, ada apa ini. mungkin bagi kalian biskuit bantuan kalah prestige sama sepotong ayam kentucky, tapi di padang alang biskuit ini jadi sangat prestige sampai sampai di curi. Belum lagi saat mendengar cerita, ketika mereka harus melalukan kunjungan Posyandu, mereka harus JALAN KAKI sambil MENGGOTONG OBAT sampai desa terjauh berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Mademang. Saya tidak tau harus mengatakan apa. Ambulans tidak terlihat disana. Mungkin antara akses terbatas, fasilitas kesehatan dan pendudukung yang kurang memadai berkorelasi positif dengan pertumbuhan penduduk yang cenderung defisit.

                                                               Istirahat Dulu Tunggu Nakes yang Lagi OTW

#Penumpang-Penumpang Baru

Menjelang sore kami bertolak dari Padang Alang. Rencananya kami akan singgah dahulu ke salah satu puskesmas baru, Puskesmas Kalunan (semoga tidak salah). Ah tapi kami menjemput bapak Camat dahulu. Sebelum kami, sampai di bibir pantai tadi siang kami bertemu pak camat. Pak camat memberhentikan ambulans kami. Sedikit berbincang rupanya pak camat ingin menumpang mobil kami ke Kalabahi. Seperti bapak pejabat yang lain, bapak camat disini sangat sederhana. Mobil kembali melaju menuju Puskemas Kalunan. Jalanannya sungguh parah. Berkali-kali kami terkocok-kocok. Saling berpegangan, termasuk berpegangan pada celana pak camat. Mungkin kalau itu terjadi di Jawa, kami sudah dianggap tidak sopan. Melewati tanjakan dan turun lagi ke menyisir bibir pantai berbatu. di tengah perjalanan kami juga bertemu dengan mobil hardtop membawa bantuan untuk puskesmas. Disini bantuan terbanyak bersal dari Australia. Hari sudah sore saat kami sampai di Puskesmas Kalunan. Tidak terlalu lama kami disini, karena masih baru tidak terlalu banyak data yang bisa kami salin. Air bersih tidak ada disini. MCK dilakukan di kali berair payau di belakang Puskesmas, tidak terkecuali Pak kepala Puskemas. Di perjalanan pulang kami, kami melewati kali ini, berdampingan dengan laut. Ada yang mencuci ada yang gosok gigi. Seharusnya mereka dapat air yang bersih. Menurut pak kepala puskesmas, kejadian penyakit akibat nyamuk cukup tinggi disini. 

Pantai Depan Puskemas Kawulan (Baju Kuning Pak Camat)








                                                                                                              (Bukan) Laskar Pelangi 


 Gosok Gigi di Kali Air Payau (Sumber Air Bersih)
                                                                             Cuci Baju (Sumber Air Bersih)

Meninggalkan Padang Alang dan Kawulan, menyisakan kenangan dan tak hentinya bersyukur. Hari semakin sore, roda mobil kami berputar menyisir pantai dan kali ini kembali mendaki tebing, menyibak belukar. Di tengah tanjakan mobil kami berhenti. Oke ini di atas pengunungan, menjelang sore dan ini adalah hutan, oke fix. Ada mata air disana kami bisa mencuci muka, sedikit menyegarkan badan ini setelah perjalanan panjang, hemmhh....dingin. beberapa menit kami menunggu, si mobil sehat lagi tapi double gardan tidak berfungsi. Tapi tidak apa yang penting bisa sampai Kalabahi. kami hampir benar-benar lupa kalau kami sedang berpuasa hari ini. Salah satu pendamping dari Dinkes yang mengigatkan, ini sudah masuk Maghrib dan bertanya akan berbuka dimana. Kami jawab di mobil saja agar tidak kemalaman. Kembali kami masuk hutan, wangi bunga ambigu (bunga kemiri atau mawar hutan) semakin tajam. Menyegarkan hidung kami, benar-benar aromaterapi alami hehhe. Matahari beranjak tidur, berubah petang. Dan kami masih meniti setiap batu dan jalanan terjal di dalam hutan ini. Sesekali Om Heri memberi aba-aba “sedikit kasar ya” dan refleks kami berpegangan dan kami terkocok-kocok di dalamnya. Sangat terasa ban ini berputar-putar di tanah merah yang licin dan heeemm hampir saja tergelincir ke jurang di samping kami.

Sekali lagi kami diingatkan berbuka. Bagi saya ini adalah buka puasa ternikmat. Jika saat ini saya berbuka di rumah mungkin makanan warna-warni sudah saya lahap, mulai dari es, kurma, nasi, sayur dan berbagai pilihan lauk. Tapi disini, hanya sebotol air mineral ukuran 1 liter, wafer dan beberapa kaleng softdrink. Kami minum bergantian sambil dikocok-kocok kerna mobil kami berpijak pada bebatuan yang terjal. Kami harus tahu kapan kami harus minum agar tidak tersedak. Disinilah saya belajar dan mencicip rasa nikmat berbagi. Samping kanan dan kiri sudah gelap, pohon-pohon sudah berganti menjadi hitam. Terang rembulan tidak cukup menerangi perjalanan kami. Lampu mobil kami membelah gelapnya hutan ini dan...ada lelaki paruh baya, menggandeng anak kecil melambaikan tangan tanda memberhentikan mobil kami. Sangat tidak peduli jika kami tidak berhenti, ini hutan, gelap dan tidak ada rumah penduduk. Bapak dan anak ini menumpang mobil kami dan kami harus berbagi. Seperti biasa mereka mebawa parang kemana-mana. Anak yang duduk di samping bapak ini mungkin sekitar 5 tahun, kecil dan kurus. Saat kami tanya darimana malam-malam begini. Bapak ini menjawab dari PUSTU DI APUI. Haahhh...kami yang orang kota seketika terbelalak dan jika kami punya banyak makanan dan minuman rasanya ingin diberikan ke bapak dan adek ini. Rumah bapak ini dekat Mainang dan bapak ini sudah berjalan dari Pustu di Apui sejak jam 3 sore dan ini sudah jam 6 sore. 3 jam sudah bapak ini berjalan. Mendadak saya tidak merasa lapar, meskipun berbuka dengan sepotong wafer dan air seadanya. Menurut bapak ini perjalanan dengan jalan kaki dari rumahnya ke pustu di APUI bisa 5 jam (PP 10 jam, pemirsaaaa) karena tahu jalan pintas. Parang berfungsi untuk menebas belukar dan binatang buas tentunya. Kata bapak ini kalau bukan orang asli sini, bisa jadi 7 jam perjalanan (PP 14 jam pemirrsssaaaa #pingsan). Disinilah tak henti hentinya bersyukur. Ini Ramadhan ternikmat. Sepanjang perjalanan kami juga sibuk membicarakan swanggi. Alor kota yang mistis, katanya ada orang yang bisa terbang kemana-mana bahkan mereka punya perkumpulan internasional waaaaaaww :D . Mereka mulai bercerita swanggi tidak makan pisang emas sampai pernah menemukan swanggi. Oh ya rencananya kami akan singgah di Apui malam ini, namun diurungkan karena kami tidak bawa baju ganti. Katanya jika menginap di Apui, tengah malam akan mendengar suara kaki berjalan tapi tidak ada wujudnya. Itu seram sekali gan, dan Apui sangat dingin. Tidak terasa kami sudah mendekati Mainang. Bapak dan adik kecil ini turun, kami memberikan semua makanan yang kami miliki termasuk softdrink yang masih tersisa. Kami bisa membelinya lagi di Kalabahi, bahkan di Surabaya bisa kami membelinya dimana saja.

Melintasi Puskesmas mainang sudah sepi, semuanya gelap. memang tidak ada listrik disini. Sepertinya teman kami sudah kembali ke kota. Perjalanan kami lanjutkan. Setelah mengantar pak camat, mobil kami melaju ke hotel. Perjalanan hari ini berakhir dengan penuh kenangan yang patut disyukuri. 



Kamis, 01 Mei 2014

Merekam Jejak di ALOR: 13 Hari Menjelajah Part 2

Pelabuhan Baranusa (by www. Paronamio.com

#Baranusa..

Anak-Anak Bermain Ketinting (Baranusa by http://places.seephotosof.com/) 
Kurang lebih 4 jam perjalanan kami tempuh untuk mencapai Baranusa. Baranusa daerah tepi pantai yang bisa dibilang cukup gersang. Mungkin karena kami datang tepat saat kemarau. Kami sampai di tempat ini tengah hari. Di tepi lautan naka- anak sedang  mendayung ketinting adapula yang berenang. Wah rupanya pasar baru saja usai,,,,hari ini hari pasaran. Pendamping dari Dinkes membelikan kami kue rambut,, semacam gulali, manis. Teman kami harus melanjutkan perjalanan ke Kayang. Setelah bernegosiasi dengan sopir ambulans Baranusa, teman kami akhirnya sepakat di antar melalui darat dengan Ambulans. Karena kondisi laut yang tidak memungkinkan untuk ke Kayang dengan boat. Sudah tengah hari, kayang berbatasan dengan laut lepas dan ombak pasti akan sangat tinggi di Kayang, menurut bapak sopir boat. Siang hari ini di Baranusa tidak ada listrik. Listrik menyala dari jam 5 sore hingga jam 5 pagi. Sinyal Hp masih ada disini meskipun kadang hilang kadang ada (ababil sinyalnya -_-" ). Setelah berkenalan dengan petugas di Puskesmas Baranusa kami tidak bisa mengisi sebagian besar data kami. Ya mau bagaimana lagi sebagian besar data ada di komputer dan listrik belum menyala. Sebisa mungkin kami mengisi dari data-data yang ada print-out-nya. Oh ya, di Puskesmas Baranusa saat kami datang (tepat bulan Agustus 2010) tidak punya dokter umum, hanya dokter gigi. Kebetulan dokter gigi ini satu almamater dengan saya.

Kami menyalin data imunisasi. Hemmhh,,ada 3 bulan data imunisasi kosong. Rasa penasaran saya mendorong untuk bertanya. Akhirnya saya tahu, data ini kosong karena cuaca yang buruk selama 3 bulan, Dinkes tidak bisa mengirimkan vaksin ke puskemas ini. Ada cool box  disni namun tidak bisa digunakan maksimal. Listrik menyala hanya 12 jam, menyala di malam hari dan mati di pagi hari.  Saat kondisi ini terjadi jelas imunisasi tidak dapat dilakukan. Betapa tidak kondisi alam dan infrastruktur yang kurang memadai tanpa disadari  berkolaborasi merampas hak sehat anak-anak Baranusa. Hemhh,,,apakah fakta ini bisa dijadikan hipotesis terkait permasalahan perlambatan pertumbuhan penduduk di wilayah ini??? yaa mungkin saja...

Karena tidak ada lagi data yang bisa saya salin, maka para petugas puskesmas ini meminta kami beristirahat sejenak. Saat saya bangun, mereka sedang sibuk menyiapkan masakan berbuka puasa untuk kami. Sesekali saya membantu. Sesekali bercerita, bahwa tidak ada hiburan disini. Yang mereka bisa lakukan mungkin berjalan menikmati pantai, melihat televisi di malam hari. Namun, bapak dokter gigi punya cara lain mengisi waktu luang, yaitu memancing ke Pulau Batang. Pulang Batang adalah salah satu Pulau tidak berpenghuni di Alor. Ya waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Cepat sekali waktu berlalu. Tidak terasa, tiba waktu berbuka. Adzan tetap terdengar kencang disini, karena mayoritas masyarakat di baranusa ini adalah muslim. Hidangan berbuka hari ini adalah ayam kecap, ikan pindang bakar dan es kelapa muda. Segar dan nikmat. Oh ya, menurut masyarakat Alor dan NTT pada umumnya suguhan ayam diberikan kepada orang yang dianggap tamu penting (saya tamu penting berarti ya, heheheh :D ). Dan asal kalian tahu, harga es batu disini lebih mahal daripada harga kelapa. Selepas berbuka puasa kami bercerita hal mistis. Menurut salah satu petugas perna melihat hantu kepala api jatuh di pohon-pohon kelapa dan masih banyak lagi. Selepas isya kami ke Puskemas kembali mengisi data. Kami belum menyelesaikan pengisian data kami saat boat akan kembali ke Kabir (agak sepihak juga sih keputusannya...dan miscommunication). Akhirnya kami tetap melanjutkan pengisian data. Kami akan ke Kabir dengan perahu motor bu Bidan besok pagi. Tepat pukul 12 malam kami menyelesaikan pengisian data tersebut, dengan senang hati bapak kepala Puskesmas, bapak Silvester menunggui kami dan melimpahi kami dengan makanan, Terima Kasih. Tengah malam kami mencari fotocopy yang masih buka. Sungguh horor harus menggunakan Ambulans mengelilingi desa untuk sekedar fotocopy. Dan saya duduk di bagian belakang. dan lagi-lagi bercerita mistis, fyuhhh....sepanjang perjalanan mereka bercerita pengalaman mengabdi di Puskesmas ini. Kak Yuni bercerita kalau dulu pernah perahu motor yang ditumpangi hampir masuk pusaran air saat akan kunjungan ke suatu desa di Baranusa. Kak Yuni bercerita semua penumpang berteriak, untung saja perahu motor ini bisa lepas dari pusaran air. “di perahu motor sa su menangis....itu perahu motor berputar putar”. Lain lagi cerita bu bidan saat merujuk pasien partus (melahirkan) ke rumah sakit Kalabahi karena si posisi bayi sungsang. Malam itu ibu bidan dan keluarga pasien menggunakan perahu motor menuju kalabahi (katanya dengan perahu motor Baranusa-Kalabahi bisa menghabiskan waktu 6 jam, oke baiklah lama sekali ya). Ibu bidan bercerita di tengah merujuk pasien ini, ada ombak besar. Jelas nyawa banyak orang di pertaruhkan saat itu, termasuk si Bayi yang belum keluar ini. Mereka terombang ambing di tengah ombak besar, perahu motor tetap melaju. Ada yang menangis ada yang berdoa. Tapi akhirnya sampai juga di RS Kalabahi. Kata bu Bidan “ehhh saya kena marah dokter di Kalabahi ee... katanya ini ibu posisi bayi normal kenapa di rujuk ke rumah sakit. Saya bilang sa tadi di laut kami kena ombak, tadi sa periksa ini ibu punya bayi sungsang ee”. Ombak buat posisi bayi jadi normal, kata bu bidan.

Begitu sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan yang lebih baik, bagi masyarakat Baranusa. Mengantar 1 orang yang sakit. Ini berarti, saat perahu motor melepas jangkar dan melaju di  atas gelombang, semua yang ada didalamnya siap menggadaikan nyawa di laut ini.......

Saat ini kami sudah kembali ke Puskesmas. Kami akan berangkat menuju Kabir esok hari jam 4 pagi selepas sahur. Waktunya tidur. sebagai pengambil data saya berdua dengan partner saya bernama mas Thoy (Thoyyib lengkapnya). Malam ini sebentar untuk tidur di rumah dinas kompleks Puskesmas Baranusa. Mas Thoy tidur di kamar depan dan saya bersam 2 petugas kesehatan yang sedari tadi menemani dan membantu kami. Belum juga tidur, ada suara-suara aneh di kamar depan. Hahhhhh...teman kami di kamar depan kesurupan. Menurut 2 kakak (sebutan kepada wanita/laki-laki yang terlihat masih muda J ) ini kamar depan ada penghuni seorang noni belanda. Hadduhhh bisa telat sahur ini pakai acara kesurupan. Kami semua berkumpul dipojokan kamar sebelah berteriak histeris. Tiba-tiba pintu kamar kami di ketuk dan suara di kamar depan hilang. Kami bertambah histeris. Akhirnya kami berani juga membuka pintu, pelan-pelan sambil mengintip takut juga jangan jangan bukan Mas Thoy di depan pintu tapi si noni belanda hehhehe... Legalah ternyata bukan noni belanda di depan pintu. Tidak jadilah tidur kami, malah mendengar cerita mistis Mas Thoy.

#Baranusa-Kabir

(Dokumentasi perjalanan hilang bersama Hp yang rusak, sayang sekali -_-"  )

Baru saja rasanya tidur, sudah bangun lagi. Sudah pukul 4 pagi waktu bersiap menuju Kabir. sebelumnya kami sahur terlebih dahulu dan menunggu sholat subuh. Setelah semua siap, kami menuju pantai. Tidak lupa pamit pada Papa Sil (sebutan untuk pak kepala puskesmas). ada masalah dengan perahu motor yang besar, akhirnya kami menggunakan perahu motor kecil. Berhutang budi kami pada semua petugas dari Puskemas Baranusa (Kakak nona, Kakak yuni dan Kakak Sri) mau mengantar kami ke Kabir, mengorbankan minyak (sebutan bensin) saya tahu harganya sangat mahal disiniwaktu dan perahu motor ini untuk gratis kami tumpangi. Aah iya 1 lagi suami ibu bidan terima kasih sudah bersedia mengantar kami dan terima kasih untuk sebotol pasir kuning-hitamnya. Masih ingat saya diajak ke pantai di Baranusa, semoga bisa singgah kembali. Dingin sekali udara pagi ini, meskipun saya tidur sebentar saya tidak mengatuk. Saya duduk di bagian depan perahu motor ini. Melihat lihat...baru sadar, jarak kami dengan air laut hanya 1 jengkal. Pagi menjelang, semburat jingga cantik sekali melukis awan di atas kepala kami. Ada awan cantik di atas kepala kami, dan ada laut indah di bawah mata kami, Subhanallah. Hari cepat sekali berubah terang. Saat kami berangkat semua pemandangan terlihat hitam dan sekarang sudah terlihat jelas. Dan memandang laut, ahhhh Tuhan...bening sekali airnya,,seperti di kolam. Saya lihat segerombolan ubur-ubur berenang. Saya turunkan tangan saya ke air (saya lupakan paranoid Hiu dan Paus,,hehehe) hemmhh.... dingin. Saya lihat terumbu karang besar-besar di bawah kami jelas itu nenek terumbu karang hahha,,, karena terumbu karang butuh waktu lama untuk menjadi selebar itu. Jauhnya perjalanan terasa begitu cepat. Tak terasa kami sampai di Kabir, sekitar pukul 6 pagi.


Ramai sekali tepi pantai kabir. orang lalu lalang membawa ikan. Oh mereka baru pulang melaut dan hari ini sepertinya hari pasaran. Tidak hanya para orang tua, ada banyak anak-anak yang menenteng ikan, hemmhh mereka menjual ikan pemirsa. diantara ramainya transaksi jual beli ikan, saya melihat ada yang menjual google. Yaa google dari kayu sepertinya handmade dari penduduk lokal. Kami berjalan menyusuri dermaga, petugas dari Baranusa juga masih menemani kami. Di tengah jalan ada segerombolan anak yang menyapa kami “pagi kakak...” kami balas ”pagi..”. Mereka punya dua versi sapaan. Saat mereka melihat kami berjilbab maka mereka akan menyapa dengan “selamat pagi” jika tidak mereka akan menyapa dengan mengucap “shaloom”. Teman-teman bersantai ria, sebelumnya kami bertemu dengan petugas di Puskesmas Kabir. tepat pukul 7 pagi petugas Baranusa izin pulang. Menurut mereka ombak akan tinggi jika terlalu siang. Kami mengantar mereka sampai dermaga. Berjuta terima kasih untuk kalian.

Pukul 11 siang kami bertolak dari kabir kembali ke Kalabahi. Seperti biasa saya duduk di dek dan mulai memotret sana sini. Ada pula yang duduk di atap boat dan ada yang tidur. mungkin kelelahan. Hari semakin siang dan tiba-tiba ombak besar mengguncang boat kami. Mereka sebut ini Tanjung Muna. Dari dek saya bisa melihat ombak yang datang memang besar dengan intensitas yang cepat. Jika kalian masih ingat pelajaran fisika tentang gelombang, kita tahu gelombang ada puncak dan lembah. Nah, ketika kami berhadapatn dengan gelombang ini, posisi kami sedang ada di lembah, kami sudah melihat puncak gelombang selanjutnya. Kami histeris sekali waktu itu. Rasanya seperti berjalan di jalan berbatu. Terpental-pental dan harus berpegangan kuat di pagar dek atau apalah yang penting berpegangan. Dek waktu itu ramai sekali dengan teriakan kami. Salah satu pendamping kami dari Dinkes bilang dengan sedikit berteriak dari dalam boat “Su jangan berteriak kalian nanti laut tambah marah. Ini su biasa”. Seketika kami berhenti dan menutup mulut. Dek hening seketika. Gelombang besar ini juga membuat salah satu teman kami mabuk laut. Gelombang tetap saja menghantam kami, kami bisa merasakannya. Gelombang besar sudah berakhir, tapi air laut cukup tinggi. Celana saya basah total, kebetulan saat itu saya duduk di pojok dek.

#La Petite Kepa”, Surga Setelah Gelombang

Berenang di Kepa

Bermain Ketinting di Kepa
Ada surga dibalik gelombang, yaaa kami berhenti di sebuah pulau indah eemmhh bukan indah, ini pulau surga. Cantikkk sekali pantainya kawan, namanya Kepa atau La Petite Kepa.  La Petite diambil dari bahasa perancis artinya kecil, jadi La Petite Kepa artinya Kepa kecil. Pulau ini telah lama disewa oleh bule perancis. Bule prancis ini membangun resort bagi diver yang ingin menyelam di pulau kepa ini. Pulau Kepa memiliki Spot Diving yang uiindaahhh,,,(bilang gini soalnya cuma ini yang saya tahu cantik ehhehheh). Resort disini berupa rumah tradisional masyarakat Alor. Sayangnya, tidak ada dermaga disini dan sayangnya lagi kenapa bule perancis yang mengelola aaaahh,,,masyarakat lokalnya kemana??. Oke baik lupakan. Karena tidak ada dermaga, jadi kami harus berenang dulu untuk mencapai  pantai. Kalian yang mau meloncat dari atas kapal atau boat harus pilih pilih tempat, tidak sembarang. Saat kami tiba, arus laut sedang kuat, ada pusaran air tidak jauh dari tempat ini. Kami melewatinya tadi. Kami meloncat ke laut sesuai arahan para kru boat dan pendamping dari Dinkes yang notabene hafal di luar kepala kondisi laut disini. Tiba giliran saya turun, dan saya meloncat, kemudian saya panik,,,dan hampir tenggelam hahahha lagi lagi nekat. Manusia yang belum fasih berenang, sok berani meloncat dari boat tanpa life vest, ban atau apalah itu yang bisa mengapung. Oke baiklah, konyol jangan ditiru hehehe...tapi setidaknya saya tahu air di laut ini UUUUASSINNN POOOLL. Insiden hampir tenggelam sudah selesai, wwuuu kami bermain di kolam berair asin (saking beningnya). Kami mendayung ketinting yang lagi nganggur di tepi pantai. Merasakan pasir pantai yang lembut. Pasir disini berwarna hampir pink, cantik. Kami juga sempat bermain-main disekitar resort milik Bule Prancis ini. Menurut cerita, bule ini fasih bahasa daerah Alor loh,, waoooww two thumb buat abang bule. Kemudian, kami memilih karang disini, ada karang merah cantik sekali. Rupanya serpihan karang ini yang membuat pasirnya berwarna pink. Waktu berputar cepat, sudah saatnya meninggalkan Kepa. Tentu, Kalabahi menunggu kedatangan kami.
View Pulau Kepa (www.transtike.com)
Perjalanan ke Kalabahi dari Pulau ini tidak terlalu jauh. Tidak terasa kami sudah tiba dan tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di hotel. Setelah mandi kami beristirahat. Esok akan menjelajah Bakalang dan Pulau Pura





Merekam Jejak di ALOR: 13 Hari Menjelajah Part 1

Malam hari setelah istirahat di hotel kami di Kalabahi rupanya pusing akibat foker tidak kunjug hilang. Bahkan, hingga adzan berbuka. Baru kali ini berpuasa sejauh ini. tapi kami sempat bingung saat petang tiba, sudah masuk waktu berbuka belum ya?? Akhirnya kami bertanya pada 2 wanita yang menjaga hotel ini, ahh sayang sekali mereka tidak tahu. Baiklah kami menunggu J

#Kehidupan Umat Beragama di Alor

Bukti Kerukunan Antar Umat Beragama, Upacara Adat Semua Suku Alor berkumpul Menari Lego-Lego (by: http://smellofoaks.wordpress.com/)
Hotel kami berada di Kalabahi, wilayah dengan penduduk terpadat di Alor. kalabahi adalah daerah yang masih termasuk dalam Kecamatan Teluk Mutiara. Karena Kalabahi adalah pusat pemerintahan, maka pendatang banyak yang bermukin di wilayah ini. di kalabahi kami bisa menemui warung jawa, bahkan warung di sebelah hotel kami penjualnya adalah orang Madura. Waaahhh...sebangsa dan setanah air dengan saya heheh tetapi urusan harga, tetap ikut harga Alor bukan harga saudara hehhee,,,,. Pendatang di Alor ini biasanya berasal dari Sulawesi, Jawa dan daerah lainnya. Adanya pendatang membuat agama di Kalabahi ini sangat beragam dibandingkan wilayah lainnya. Agama yang ada di Kalabahi Kristen 57,26%, Islam 35,47%, Katolik 6,92% dan Hindu/Budha 0,35% dari seluruh populasi di Kecamatan Teluk Mutiara (BPS, 2012). Biasanya, penduduk beragama Islam bermukim di pesisir dan penduduk Kristen/Katolik bermukim di pegunungan.

Saat ini adalah Bulan ramadhan, tentu saja suara adzan penting bagi kami. Dan ternyata,,, tidak sulit bagi kami untuk mendengar adzan. Jelas, sangat jelas. Kehidupan antar umat beragama di Alor ini sangat baik, tenang dan selaras.  Menurut cerita, penduduk non muslim tidak segan untuk membantu penduduk muslim yang sedang membangun masjid, begitu pula sebaliknya. Bahkan kerap dijumpai dalam keluarga terdapat agama yang berbeda antar anggota keluarga. Ada juga yang menjatah agama apa yang akan dipeluk, jika si Kakak Kristen maka si adik memeluk Islam. Di kantor pemerintah juga demikian. Saat Ramadhan seperti saat ini tenaga kerja muslim diperbolehkan pulang setengah jam lebih awal, sedangkan yang non muslim tetap sesuai jadwal. Tidak ada konflik dengan kebijakan ini, Alhamdulillah. Sungguh indah semoga selalu damai seperti ini selama lama lama lamanya...J.

Tiba waktunya sahur. Mungkin kami akan kelaparan esok pagi kalau pak satpam hotel ini tidak membangunkan kami. Ya bapak satpam ini non muslim tapi tahu jadwal sahur kami. Thanks a lot pak satpam atas gedoran di pintu kamar kami dan berteriak “sahur..sahur”.Well it’s a real consideration alias toleransi antar umat beragama :D semoga selalu damai kota seribu MOKO,,,

#Preparation...

Hari kedua ini adalah hari yang bisa dibilang cukup tenang. Acara hari ini hanya diisi dengan permohonan izin mengambil data. Kami disebar di Dinkes dan beberapa Puskesmas yang terjangkau di sekitar Kalabahi. terdapat 21 Puskesmas di Alor ini dan kami akan kami kunjungi. Esok hari adalah hari yang ditunggu. Besok kami akan menjelajah ke Pulau Pantar. Ada 5 Puskesmas yang kami tuju, yaitu Puskesmas Tamalabang, Maliang, Kabir, Baranusa dan Kayang. Kayang adalah Puskesmas terjauh, tidak ada dermaga disana dan menurut penduduk setempat omabk lautnya luar biasa besar (sepertinya keren ehhehe). Saya memilih Baranusa, Puskesmas terjauh ke-2 (nekat :p ).

Full Team di atas boat, persiapan menuju Pulau Pantar

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi WIT kami sudah bersiap di pelabuhan. Kami akan menjelajah ke Pulau pantar hari ini. saya pikir akan menggunakan perahu motor hehhe, eh ternyata menggunakan boat. boat  yang akan kami pakai ini rupanya Puskesmas kelilin milik Dinkes Alor. Saya rasa wilayah yang terfragmentasi dalam pulau-pulau perlu memikirkan untuk menyediakan fasilitas kesehatan berupa boat. Jelas hal ini akan mempermudah dan mempercepat akses masyarakat yang terbatas secara geografis terhadap pelayanan kesehatan. Meskipun saya rasa dengan 1 boat ini belum mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Jika kita lihat kembali proyeksi penduduk Kabupaten Alor, pertumbuhan penduduk di wilayah-wilayah terbatas secara geografis, termasuk Pulau Pantar ini cukup lambat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di daerah Kecamatan Teluk Mutiara, seperti Kalabahi, Mebung dll. Apakah ini indikator bahwa KB berhasil di Pulau Pantar dan daerah lainnya yang mengalami pertumbuhan penduduk lambat???

Saya rasa ada hal lain yang perlu pikirkan mengapa pertumbuhan penduduk di daerah terbatas geografis ini mengalami perlambatan pertumbuhan bahkan ada pula yang sudah dan aka minus (-) 5 tahun ke depan. Salah satunya dari segi kesehatan masyarakat, terutama di saat sakit. Masyarakat yang sakit tentu memerlukan pengobatan. Kualitas pelayanan kesehatan di daerah berperan penting dari segi kuratif maupun promotif, pereventif bagi masyarakat di daerah seperti ini. Kualitas pelayanan kesehatan ini tidak melulu diukur atas tersedianya fisik fasilitas kesehatan yang baik dan alat kesehatan yang lengkap. Namun, poin pentingnya adalah apakah tersedia fasilitas yang terjangkau secara finansial (biaya) dan non finansial (akses) yang didukung dengan adanya tenaga kesehatan yang kompeten serta ketersediaan logistik yang cukup. Melihat pada data BPS tahun 2012, daerah terbatas secara geografis ini masih ada yang tidak memiliki tenaga kesehatan, misal di Lembur tidak ada tenaga kesehatan. Namun ada pula tenaga kesehatan tersedia meskipun terbatas dan dokter tidak ada seperti di Pantar Barat, Pantar Barat laut. Masalah kesehatan yang sering dihadapi di Alor terkait dengan kematian ibu dan bayi, balita gizi buruk dan kurang dan penyakit infeksi lainnya. dan perlu diketahui bahwa saat ini Provinsi NTT sedang menggalakkan program Revolusi KIA yang menyebutkan Kabupaten Alor mengalami peningkatan terbesar persalinan ditolong tenaga kesehatan yakni dari 63, 89 persen pada 2011 menjadi 99, 36 persen pada 2012 (www.indonesiarayanews.com). Nampaknya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut ada apa dibalik perlambatan pertumbuhan penduduk di beberapa daerah di Kabupaten Alor???

#Menuju Pantar...

Matahari sudah mulai naik, cukup terik. Kami semua sudah berada di dalam boat. Tempat favorit saya adalah dek boat. Disini saya bisa melihat indahnya alor sebenarnya tanpa terlewati. Perjalanan hari ini akan menempuh rute Tamalabang-Maliang-Kabir-Baranusa-Kayang. Kami melintasi pulau-pulau yang ada di Kepulauan Alor. Ada pulau buaya. Asal muasal Pulau ini disebut Pulau Buaya karena bentuknya seperti buaya.  Oh ya,, selain kami, ada juga perwakilan Dinkes yang mengantar kami dan kepala Puskesmas Kayang. Pertama kali melihat beliau berdiri di dek sambil mengutak atik Hp nokia hitam putih yang diikat dengan karet gelang, saya pikir beliau termasuk kru boat eh ternyata bapak kepala puskesmas (maap pak kapus :D ). Ya beginilah kalau anak kota masuk desa, di Surabaya status jabatan sebagai Kepala Puskemas kebanyakan sudah pakai gadget keren,,, :D dalam perjalanan ini saya melihat perahu-perahu ketinting mengambang di atas goyangan ombak dan dengan segera jala ditebar. Menurut masyarakat Alor ombak akan naik di atas pukul 12 siang sehingga masyarakat akan mencari ikan di pagi hari dan akan pulang sebelum siang. 2 hal yang sering saya tanyakan dengan heboh dalam perjalanan ini, “ada hiu lewat sini, om (para bapak di Alor biasa dipanggil om, dan mama untuk para ibu)??? dan “kalau paus ada tidak di laut ini ??” konyol sekali mungkin lebih tepatnya ndeso hahaha..

View dari Tamalabang
Saat boat ini berputar ke Tamalabang saya melihat di tebing tepi laut ini ada tanda “salib”. Penasaran sekali mengapa tanda “salib” dipajang dipinggir karang? Apa itu kuburan? Ahh.. rupanya itu adalah tanda bahwa disitu pernah terjadi kecelakaan perahu motor dengan banyak korban. Kalau tidak salah selama perjalan saya melihat 2. Menurut pendamping dari Dinkes banyak sekali korban yang tidak ditemukan waktu itu. Mungkin masuk ke palung laut. Menurut mereka ada banyak palung laut dan pusaran air. Jadi perahu motor dan jenis perahu lainnya harus hati-hati agar tidak “kesedot”. Cerita dari pendamping Dinkes ini ada korban yang ditemukan tapi sudah tidak utuh. Mungkin dimakan Hiu karena tempat penemuan korban memang banyak hiu (aaahhh kalau yang ini benar mengerikan). setiap perjalanan, masyarakat bertaruh nyawa di laut ini,,,,

Kurang lebih 1 jam perjalan kami tempuh ke Tamalabang. Hari semakin siang, matahari semakin terik, mungkin jika hari ini saya berpuasa di rumah saya sudah tidur di bawa kipas angin. Tapi disini, saya menikmati puasa, duduk di dek menikmati hijau dan birunya pemndangan, teriknya matahari?? Abaikan. Sudah 2 jam perjalanan kami tiba di Kabir. Hanya 6 orang pengambil data yang tersisa dalam boat ini.

To be continue......