Pagi, 14 februari 2014.
Tersentak dari tidur.
Buru-buru melihat jam, ternyata masih jam 5 pagi. Suasana di luar langit pun
masih gelap. Rasanya ingin kembali tidur, ahhh tapi ada keramaian di luar. Ada
apa sih?? Penasaran, saya bergegas turun, karena kamar saya memang ada di
lantai 2. Ahhh ternyata hujan abu pemirsa. Hujan abu darimana???? Merapi
meletuskah?? Buru-buru membuka sosial media dan nonton berita. Hemm,,,,
ternyata bukan merapi yang marah, tetapi Kelud yang "jebluk" tadi
malam.
Jalanan yang penu debu
Jam
menunjukkan jam 7 pagi,, tapi langit masih gelap. Begini rasanya dalam bencana.
Meskipun bencana kecil kiriman tetangga. Semua acara hari ini batal. Bahkan,
kuliah diliburkan selama 3 hari. Selama kuliah di Surabaya paling ekstrem kena
banjir. Kuliah di jogja memberi pengalaman menghadapi bencana yang bervariasi.
Sebelum hujan abu ini, jogja sering kali gempa. Sudah lebih dari 3 kali
merasakan gempa, membuat tubuh sempoyongan meskipun hanya hitungan detik. Tapi
Alhamdulillah hanya gempa kecil.
Baru sekitar pukul 08.00, langit mulai cerah tetapi tidak ada matahari. Terang
dalam mendung, seperti itulah gambaran kala itu. Seperti musim salju semua
bangunan bewarna putih. Tapi itu debu bukan salju,, hehehe :D Semuanya berdebu.
Serasa terisolasi, semua transportasi umum tidak beroperasi hari ini dan semua
warung tidak ada yang buka. Hujan debu masih berlangsung dan jarak pandang
sangat terbatas, hanya sekitar 5 meter. Satu hal yang paling dicari adalah
masker.
Pemakaman dekat kos, penuh debu.
Perut lapar, maka memberanikan diri untuk keluar. Menggunakan jaket, masker dan
kaca mata. ternyata benar hujan debu masih turun deras. Harus berhati-hati
menyebrang jalan dan berkendara karena jarak pandang hanya beberapa meter. Debu beterbangan menghalangi pandangan. Seluruh kegiatan lumpuh. Karena tidak ada
warung yang buka, restoran cepat saji jadi tujuan utama. Pemandangan kanan dan kiri seluruhnya putih tapi bukan karena salju, karena debu.
Pakaian lengkap tapi cuma sekali pakai. Debunya nempel
Pemandangan dekat sekolah pasca UGM
Bergumul dengan debu yang
berterbangan sampai di warung cepat saji terdekan dannnnnnn ternyata antri
sekaliii pemirsa. Mau makan harus antri 1 jam. Oke baiklah harus antri karena
tidak ada warung yang buka lagi.Hujan abu juga membuat baju kami 1 kali pakai.
Karena sekali dipakai keluar kembali akan berdebu. Debu tidak hanya ada di
jalanan, tetapi debu sudah mulai masuk ke kamar saya. karena posisi kamar saya
di depan, sehingga dengan mudah debu halus itu masuk. Debu juga bertebaran di
balkon kos. Jogja berdebu hingga lebih dari 1 minggu. Kesulitan mendapat
makanan berakhir di hari ke tiga.
Debu di jalanan.
Antrian di perempatan Jakal






Tidak ada komentar:
Posting Komentar