Jumat, 16 Januari 2015

Akhir Kunjungan... Bye ALOR



Pagi datang dengan ceria di bumi kenari pagi ini. Meskipun ditemani mendung, matahari tetap memancar ceria. Bunyi koper terdengar bersahutan menyusuri koridor hotel. Ya.. hari ini tiba waktunya untuk mengakhiri perjalanan ini setelah 2 minggu lamanya mencari fakta sekaligus menyesap indahnya alam bumi kenari. Apalagi kuliner seafood super besar, favorit adalah kerapu macan :D. kalo di jawa mesti harganya selangitt hehehe :D

       Semuanya telah berkumpul di lobby hotel. Tidak lama Ambulance Dinkes Alor datang untuk menjemput kami. Ambulance membawa kami ke pelabuhan. Ya pelabuhan...karena tidak ada pesawat Transnusa yang mengudara hari ini. Kami akan menggunakan boat Puskesmas Keliling milik Dinkes Alor yang kami sewa untuk mengantar kami ke Atambua. Atambua adalah daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.Ini adalah H-7 lebaran. Tidak hanya kami yang akan menumpang boat ke Atambua, tetapi Kepala Dinke dan beberapa staf Dinkes yang berasal dari luar Alor akan ikut dalam perjalanan ini.
     
      Pukul 07.00 WIT kami sampai di pelabuhan. disana sudah berkumpul staf Dinkes. Ya mereka keluarga baru kami selama 2 minggu disini. Pisang goreng hangat hadir sebagai pengganjal lapar kami di perjalanan (bagi yang berhalangan puasa hari ini). Perjalanan kami ke Atambua akan membelah selat ombai selama 4 jam. Dag Dig Dug.. sudah pasti, karena tadi malam sempat badai.Setelah berpamitan semua bergegas naik ke boat. Air mata tak bisa terbendung harus berpisah dengan keluarga ini. Perlahan boat meninggalkan pelabuhan, meninggalkan keluarga baru kami yang masih setia berdiri di pinggri pelabuhan. Semakin kecil dan kemudian tidak terlihat, yang terlihat hanyalah daratan berupa gunungan gersang dan laut yang biru jernih. Ombak selat ombai cukup bersahabat dan matahari sudah cukup cerah untuk waktu yang masih menunjukkan pukul 08.00 WIT. 

       Boat menyusuri ayunan ombak meninggalkan daratan Alor terakhir yang berhadapan dengan Timor Leste. Kemudian hanya laut tanpa batas yang kami bisa lihat. Seperti biasa tempat favorit saya adalah dek boat. saya duduk memandangi laut tanpa batas ini sambil membayangkan mungkin akan bertemu paus di perjalanan eheheh :D. Tapi tiba- tiba ada hewan terbang dan kemudian masuk ke air. Saya berpikir keras burung walet datang darimana di tengah laut??? #ndeso mulai keluar. "burung walet" ini mampu menghapus kebosanan kami...terbang dan masuk ke air begitulah tingkah lakunya. Belakangan saya tahu itu adalah IKAN TERBANG pemirsa. Biasanya ikan ini seliweran di Indosiar eheheheh :D perjalanan masih panjang, matahari semakin terik dan mata ini semakin berat diterpa angin laut yang semilir. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidur saja. 
          Cukup lama saya tidur, awan mulai mendung dan perjalanan kami sebentar lagi akan sampai di Atambua. Beberapa kapal tongkang mulai terlihat berjejer di pelabuhan atambua. Cuaca memang  mendung tapi pelabuhan yang kering, panas dan berdebu bisa kami rasakan. Sampai di pelabuhan, Om heri dan pengantar lainnya berpamitan untuk kembali lagi ke Alor sebelum hujan dan cuaca laut memburuk. Perjalanan kami dari pelabuhan pun masih panjang. Kami juga berpamitan dengan staf Dinkes dan Tujuan terkahir kami adalah Bandara El-Tari Kupang. Butuh 10 jam untuk mencapai Kota Kupang dari Atambua. Selanjutnya, kami harus mencari travel. Kami menumpang angkot yang kami carter dan berdesakan dengan koper-koper kami yang besar.
            Angkot yang jauh dari layak berjalan terseok seok menyusuri jalanan pelabuhan yang berdebu kemuadian bertemu dengan jalanan yang berkelok-kelok, turun-naik ala jalanan pegununga. Satu kata untuk perjalanan ini “HOROR”. Pegal dan penat karna tidak bisa merubah posisi dalam waktu yang cukup lama. Sepanjang perjalanan saya memilih untuk melihat-lihat. Yaa.. kami menangkap beberapa mobil dengan plat berbeda dengan mobil pada umumnya di Atambua. Itu Mobil Timor Leste,, kenapa bisa asik aja jalan di Indonesia? Tanya kenapa??
            Tepat tengah hari kami tiba di agen travel Atambua. Tidak butuh waktu lama, tepat pukul 12.00 WIT kami sudah menumpang minibus menuju Kota Kupang. Ahh..masih perjalanan panjang. Hanya sesekali mata ini tertidur. Selebihnya terbangun karena jalanan berlubang membuat kami serasa dikocok kocok dalam minibus. Atambua menuju kefamenanu. Perjalanan ini dihadiahi jalanan aspal yang berlubang sana sini. Tapi kami juga bisa melihat gerombolan sapi di tanah lapang gersang. Mungkin sedang menikmati rumput kering. Rumah-rumah tradisional NTT berderet beradu dengan kerasnya jalanan aspal. Setelah Kefamenanu perjalanan menuju Timor Tengah Selatan. Jalanan di TTS lebih baik dan halus. Tapi, serasa melitas di lintasan roller coaster. Geografis TTS adalah pegunungan. Minibus berjalanan meliuk-liuk di jalanan berkelok. Saya pun menahan mual. Akhirnya tepat pukul 22.00 WIT kami sampai di hotel dan dapat beristirahat untuk mengejar penerbangan esok hari.