Pagi datang dengan ceria di bumi kenari pagi ini.
Meskipun ditemani mendung, matahari tetap memancar ceria. Bunyi koper terdengar
bersahutan menyusuri koridor hotel. Ya.. hari ini tiba waktunya untuk
mengakhiri perjalanan ini setelah 2 minggu lamanya mencari fakta sekaligus
menyesap indahnya alam bumi kenari. Apalagi kuliner seafood super besar, favorit
adalah kerapu macan :D. kalo di jawa mesti harganya selangitt hehehe :D
Semuanya telah
berkumpul di lobby hotel. Tidak lama Ambulance Dinkes Alor datang untuk
menjemput kami. Ambulance membawa kami ke pelabuhan. Ya pelabuhan...karena
tidak ada pesawat Transnusa yang mengudara hari ini. Kami akan menggunakan boat
Puskesmas Keliling milik Dinkes Alor yang kami sewa untuk mengantar kami ke
Atambua. Atambua adalah daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.Ini
adalah H-7 lebaran. Tidak hanya kami yang akan menumpang boat ke
Atambua, tetapi Kepala Dinke dan beberapa staf Dinkes yang berasal dari luar
Alor akan ikut dalam perjalanan ini.
Pukul 07.00 WIT
kami sampai di pelabuhan. disana sudah berkumpul staf Dinkes. Ya mereka
keluarga baru kami selama 2 minggu disini. Pisang goreng hangat hadir sebagai
pengganjal lapar kami di perjalanan (bagi yang berhalangan puasa hari ini).
Perjalanan kami ke Atambua akan membelah selat ombai selama 4 jam. Dag Dig
Dug.. sudah pasti, karena tadi malam sempat badai.Setelah berpamitan semua
bergegas naik ke boat. Air mata tak bisa terbendung harus berpisah
dengan keluarga ini. Perlahan boat meninggalkan pelabuhan, meninggalkan
keluarga baru kami yang masih setia berdiri di pinggri pelabuhan. Semakin kecil
dan kemudian tidak terlihat, yang terlihat hanyalah daratan berupa gunungan gersang
dan laut yang biru jernih. Ombak selat ombai cukup bersahabat dan matahari
sudah cukup cerah untuk waktu yang masih menunjukkan pukul 08.00 WIT.
Boat
menyusuri ayunan ombak meninggalkan daratan Alor terakhir yang berhadapan
dengan Timor Leste. Kemudian hanya laut tanpa batas yang kami bisa lihat.
Seperti biasa tempat favorit saya adalah dek boat. saya duduk memandangi
laut tanpa batas ini sambil membayangkan mungkin akan bertemu paus di
perjalanan eheheh :D. Tapi tiba- tiba ada hewan terbang dan kemudian masuk ke
air. Saya berpikir keras burung walet datang darimana di tengah laut??? #ndeso
mulai keluar. "burung walet" ini mampu menghapus kebosanan
kami...terbang dan masuk ke air begitulah tingkah lakunya. Belakangan saya tahu
itu adalah IKAN TERBANG pemirsa. Biasanya ikan ini seliweran di Indosiar
eheheheh :D perjalanan masih panjang, matahari semakin terik dan mata ini
semakin berat diterpa angin laut yang semilir. Akhirnya, saya memutuskan untuk
tidur saja.
Cukup lama saya tidur, awan mulai mendung dan perjalanan kami sebentar lagi
akan sampai di Atambua. Beberapa kapal tongkang mulai terlihat berjejer di
pelabuhan atambua. Cuaca memang mendung tapi pelabuhan yang kering, panas
dan berdebu bisa kami rasakan. Sampai di pelabuhan, Om heri dan pengantar
lainnya berpamitan untuk kembali lagi ke Alor sebelum hujan dan cuaca laut
memburuk. Perjalanan kami dari pelabuhan pun masih panjang. Kami juga
berpamitan dengan staf Dinkes dan Tujuan terkahir kami adalah Bandara El-Tari
Kupang. Butuh 10 jam untuk mencapai Kota Kupang dari Atambua. Selanjutnya, kami
harus mencari travel. Kami menumpang angkot yang kami carter dan berdesakan
dengan koper-koper kami yang besar.
Angkot
yang jauh dari layak berjalan terseok seok menyusuri jalanan pelabuhan yang
berdebu kemuadian bertemu dengan jalanan yang berkelok-kelok, turun-naik ala
jalanan pegununga. Satu kata untuk perjalanan ini “HOROR”. Pegal dan penat karna tidak bisa merubah posisi dalam
waktu yang cukup lama. Sepanjang perjalanan saya memilih untuk melihat-lihat.
Yaa.. kami menangkap beberapa mobil dengan plat berbeda dengan mobil pada
umumnya di Atambua. Itu Mobil Timor Leste,, kenapa bisa asik aja jalan di
Indonesia? Tanya kenapa??
Tepat
tengah hari kami tiba di agen travel Atambua. Tidak butuh waktu lama, tepat
pukul 12.00 WIT kami sudah menumpang minibus menuju Kota Kupang. Ahh..masih
perjalanan panjang. Hanya sesekali mata ini tertidur. Selebihnya terbangun
karena jalanan berlubang membuat kami serasa dikocok kocok dalam minibus.
Atambua menuju kefamenanu. Perjalanan ini dihadiahi jalanan aspal yang
berlubang sana sini. Tapi kami juga bisa melihat gerombolan sapi di tanah
lapang gersang. Mungkin sedang menikmati rumput kering. Rumah-rumah tradisional
NTT berderet beradu dengan kerasnya jalanan aspal. Setelah Kefamenanu
perjalanan menuju Timor Tengah Selatan. Jalanan di TTS lebih baik dan halus.
Tapi, serasa melitas di lintasan roller
coaster. Geografis TTS adalah pegunungan. Minibus berjalanan meliuk-liuk di
jalanan berkelok. Saya pun menahan mual. Akhirnya tepat pukul 22.00 WIT kami
sampai di hotel dan dapat beristirahat untuk mengejar penerbangan esok hari.